Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Jacob Ereste : Budaya Saling Menyandera di Negeri Kita

×

Jacob Ereste : Budaya Saling Menyandera di Negeri Kita

Sebarkan artikel ini

Dewanusantaranews.com – Pada akhirnya, peperangan dengan mengadu data dan fakta, pasti ada yang harus kalah atau menyerah. Bila tidak, maka perang tanding dengan kepemilikan data dan fakta yang saling dipergunakan untuk menyandera lawan yang kini membuka fron perseteruan terbuka, memang baru diawali dengan saling melontarkan mortir atau sejenis meriam yang diharap dapat membungkam musuh yang semula adalah kawan, atau seperti satu geng dari mafia yang disepakati dahulu.

Jadi istilah pecah kongsi, persis semacam yang terjadi sekarang ini. Seakan-akan perseteruan dalam satu kandang yang diurus bersama secara konvensional tanpa diikat perjanjian hukum. Toh, hukum formal pun sudah tidak bisa dijadikan pegangan. Sebab pelaksanaannya bisa mulur-mungkret, sekehendak hati yang mampu membetotnya dengan suka-suka, sesuai dengan kekuasaan dan kemampuan, sekiranya harus4 dibayar semacam persidangan koruptor yang bisa berbagi hasil dengan hakim dan jaksa hingga aparat penegak hukum lainnya.

Baca Juga  Wadan Pasmar 1 Resmi Promosi Menjadi Brigjen TNI Marinir

Jika tidak, mana mungkin narkoba bisa beredar luas atau bahkan didistribusikan dari lembaga pemasyarakatan yang juga tidak mau kalah membangun pabrik pencetak uang. Kalau pun ada uang palsu yang hendak dicetak dari lingkungan perguruan tinggi, itu hanya semacam rasa kecemburuan belaka terhadap sektor lain yang begitu mudah menghasilkan uang haram.

Pokok soal pertikaian yang membuat gaduh negeri ini, tetapi berkisar pada masalah kekuasaan dan sumber pundi-pundi yang mampetkan. Maka itu, wacana untuk menghukum mati para koruptor cuma’ sekedar semacam bumbu penyedap, agar cita-cita keadilan serta demokrasi itu memang serius ingin ditegakkan. Padahal sesungguhnya tidak. Seperti upaya mengebiri KPK hingga tak berdaya harus meloloskan pesanan sang majikan.

Baca Juga  Kemenko Polkam Dorong Optimalisasi PPID Demi Transparansi Informasi Publik

Pendek kata, semakin banyak yang hendak diteropong di negeri ini, semua tampak kusut masai seperti wajah seseorang yang baru diperkosa. Lalu banyak orang pun jadi salah tebak, seakan-akan wajah yang kusut masai itu adalah perempuan. Padahal realitasnya tidak. Krena lelaki yang diperkosa itu pun tidak hanya dilakukan oleh perempuan. Sebab ada lelaki lain yang diperkosa habis-habisan oleh kelaki lain yang enggan disebut homoseksual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *