Dia pernah ikut mengelola usaha Mbahnya yang sempat memiliki tidak kurang dari 200 truk tengki minyak serta menjadi penyalur tunggal semasa itu untuk Jawa Tengah dan sekitarnya. Sedang dari pihak Ibundanya — sebagai penguasa pasar pagi di Solo — merupakan pemasok kebutuhan pokok rumah tangga sehari-hari yang terbilang besar hingga meliputi buah-buahan seperti jeruk khas yang enak dan manis dari Tawang Mangu.
Pengalaman menarik yang cukup membekas dalam dirinya ialah ketika mengurus pembelian jeruk dari Tawang Mangu yang sangat terkenal enak dan manis ketika itu, akibat hujan lebat truk yang telah penuh dimuati buah jeruk itu tidak bisa dibawa keluar, sebabnya karena sarana jalan belum ada. Kecuali jalan tanah yang becek dan berlumpur. Akibatnya truk yang telah penuh muatan itu ditinggal begitu saja hingga beberapa waktu lamanya sampai buah jeruk itu sendiri membusuk.
Pengalaman dalam usaha perdagangan ini telah mengajarkan padanya bahwa sarana dan prasarana untuk aktivitas ekonomi supaya dapat berjalan lancar harus dipenuhi. Jika tidak, maka kerugian harus ditanggung tanpa bisa diatasi.
Karena itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu paham persis bagaimana jeruk khas Tawang Mangu itu menjadi punah, karena memang salah dalam memberi pupuk. Dia tengarai sebagai bagian dari rekayasa persaingan bisnis global yang mulai menjarah Indonesia yang sudah dimulai pada tahun 1970-1980-an
Pengalaman getir ini cukup menarik untuk dia jadikan pelajaran sekaligus pemicu dirinya untuk menekuni bidang usaha bisnis. Maka itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu paham persis bagaimana keculasan pelaku bisnis melakukan berbagai cara yang dihalalkan, sehingga jeruk khas Tawang Mangu itu menjadi punah. Begitu juga dengan pupuk yang pernah diproduksi bangsa Indonesia — Bankifa — yang kemudian lenyap dari muka bumi.
Artinya, kata Sri Eko Sriyanto Galgendu betapa pentingnya untuk memahami cara bisnis yang tidak sehat dan tidak baik itu agar mampu dihadapi dengan etika, moral dan akhlak yang harus tetap terjaga nilai kemuliaannya bagi manusia untuk bersikap jujur seperti yang telah dituntun dan diajarkan oleh agama. Jadi betapa pentingnya etika moral dan akhlak manusia itu sangat penting untuk menjaga kecurangan dan keculasan agar tidak dilakukan.
Selalu Pemimpin Spiritual Nusantara sampai hari ini dia tetap gigih dan tangguh untuk memperjuangkan gerakan kebangkitan kesadaran serta pemahaman spiritual bangsa Indonesia untuk menjadi pemimpin dan kiblat spiritual di dunia. Untuk lebih mematangkan rincian acara muhibah dan acara pemberian Azma Bumi, diskusi pun terus berlanjut di Good Truck Wedang Uduk Mabes yang juga diharap menjadi pelopor kuliner wisata malam di kawasan Jalan Juanda, Jakarta Pusat.
Jakarta, 24 Oktober 2024












