Kasus penggerebekan pesantren putri halamatul quran, sidoarjo pada dini hari menyisakan perhatian dan tanda tanya publik dimana operasi tersebut terkesan “lebay” Dan sok powerful dan seolah2 membangunkan narasi islamofobia terhadap institusi polri, tentu hal ini bukan sekedar masalah kamtibmas namun lebih merupakan penurunan dan pengrusakan citra Kapolri Jendeal Polisi Suyudi dihadapan umat islam di Indonesia. Bagaimana mungkin perintah pasukan lengkap untuk menangkap teroris dikerahkan untuk mengepung pondok pesantren putri yang berisi beberapa orang santriwati yang sedang terlelap tidur. Hal inilah yang menjadi kejanggalan dan perlu diusut tuntas oleh Kapolri Jendral Suyudi.
● *Operasi senyap div propam Polri sebagai serangan balik Kapolri Jendral Polisi Suyudi*
Saat ini masyarakat dikejutkan dengan isu penangkapan sejumlah Jenderal Polisi yang dianggap melakukan penyadapan terhadap presiden serta pejabat yang bertugas di istana. Dari sisi internal kepolisian hal ini merupakan serangan balik dan perang pengaruh Kapolri Jend. pol Sudyudi untuk menghapus adanya matahari kembar di institusi kepolisian. Apalagi memanasnya situasi politik dalam dan luar negeri mensyaratkan loyalitas Kapolri terhadap presiden sebagai satu-satunya secara sah dan konstitusional sebagai atasan Kapolri.
● *Operasi pamungkas Kapolri Jendral Pol. Suyudi periksa dan tangkap Wapres Gibran.*
Penertiban dan penegakan kepatuhan internal kepolisian dalam menyokong kepemimpinan Jendral Pol. Suyudi sebagai Kapolri nampaknya belum tuntas apabila agenda pemeriksaan dan penangkapan Wapres gibran serta penyelenggara pemilu yang melakukan skandal rekayasa, manipulasi serta penipuan ijazah SMA gibran tidak dilakukan. Karena penuntasan kasus tersebut merupakan titik awal meningkatkan kepercayaan publik maupun internasional sebagai puncak penegakan hukum yang berdampak pada stabilitas politik dan keamanan serta iklim investasi di era presiden prabowo subianto.
YaserHatim
SalamIndonesiaRaya 🇲🇨












