Dewanusantaranews.com – Indonesia gelap, ini kata mahasiswa yang melihat Indonesia dari posisi yang terang. Sehingga untuk diraba pun sulitnya tidak alang kepalang, apalagi dalam seketika yang sudah diputuskan bisa berubah, seperti kacang kedelai hingga esok sudah berubah menjadi tempe. Amsal ini sama dengan cuaca Indonesia hari ini yang hujan secara tidak menentu. Sehingga para ahli cuaca pun menjadi kelimpungan menduga apa yang akan terjadi dalam beberapa detik ke depan. Jadi memang perubahan cukup cepat, seperti pembatalan hak guna usaha (HGU) dan sertifikat hak milik (SHM) di pantai Utara Tangerang, Banten.
Sama juga dengan sejumlah tersangka korupsi yang diam-diam menjadi sepi dari keriuhan opini. Sehingga para pakar pun serius mengatakan no viral no justice. Artinya dalam bahasa asing pun dimaksudkan untuk tidak perlu menjadi pengetahuan rakyat kebanyakan yang sejak proklamasi di ikrarkan untuk republik ini, rakyat miskin dan kebodohan harus mendapat prioritas utama untuk diberesin. Realitasnya sampai hari ini, toh masih gelap juga dimana rakyat miskin dan mereka yang bodoh itu disembunyikan. Padahal, program wajib belajar dan gelontoran dana beasiswa sudah bergoni-goni katanya dibagi. Sungguhkah semua itu sampai kepada yang berhak ? Jangan-jangan ilmu bagi-bagi Bansos yang 500 triliun rupiah itu juga meniru cara pengemplangan dana dari berbagai proyek yang selalu mengatasnamakan demi dan untuk rakyat itu.
Indonesia gelap dalam pandangan para mahasiswa perlu dipahami dengan cara yang rendah hati. Setidaknya, apa yang mahasiswa katakan bisa diambil intisarinya sebagai wujud kepedulian mereka terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia yang kelak akan mereka warisi sepenuhnya untuk diteruskan kepada generasi pelanjut. Toh, Indonesia tidak boleh berhenti sampai pada generasi hari ini. Sebab esok masih ada generasi yang akan meneruskan warisan yang mereka terima harus dalam keadaan baik-baik. Meski tidak harus pula yang terbaik.
Setidaknya, begitulah dinamika dalam pendidikan yang sesungguhnya tidak semata-mata mengandalkan dari bacaan diktat serta duduk manis di perpustakaan kampus. Sebab ilmu dan pengetahuan serta keterampilan terapan itu yang mampu membuat keluaran lembaga pendidikan — dalam jenjang apapun — adalah implementasi serta praktek kerja nyata di lapangan dalam keberagaman budaya masyarakat sekelilingnya.












