Dewanusantaranews.com – Memisahkan agama dan budaya nyaris identik dengan upaya memilah snrara emas dan suasa. Keduanya kerap menyatu dalam pengetahuan dan pemahaman yang perlu diusut dalam rentang sejarah bahkan filsafat. Itulah sebabnya dalam Islam banyak yang keliru mengindentikkan peci itu seperti identitas dari agama. Padahal, karena para pemaksai peci itu semerta-merta dominan dikenakan oleh umat Islam.
Ketika melaksanakan sholat wajib di suatu daerah pelosok Indonesia, ada semacam kewajiban untuk memahai sarung ketika merasa berada di rumah sendiri. Usut punya usut, ternyata sikap yang mewajibkan untuk memakai sarung itu ketika melaksanakan sholat telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat yang ditempelkan pada ritual keagama.
Agaknya, karena itu dahulu Presiden Soekarno pernah berpersan bahwa orang Islam di Indonesia tidak perlu mengupayakan dirinya menjadi orang Arab, meski Islam itu sendiri berasal dari Arab. Artinya, agana itu tidak identik dengan budaya. Kendati agama dapat menjadi bagian dari budaya, meski begitu tidak lantas berarti agama lebih rendah dari budaya. Bahkan budaya sendiri lebih dominan diasuh oleh agama.
Pada ketika yang lain pun, acap budaya agak lebih dominan dari agama. Sehingga beragam khas bawaan dari agama justru dominan dipimpin oleh budaya. Mulai dari langgam melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an jadi tenggelam dalam gaya dan nada ucap daerah setempat. Tak hanya di jazirah Arab saja lantunan nada dan warna lafasnya yang khas berbeda dari yang ada di daerah lain, tapi saat melakukannya pun sudah dibedakan pula oleh waktu.












