Dewanusantaranews.com – Urip kui murup artinya ada yang mengatakan bahwa hidup itu menyala — memberi cahaya terang yang bermanfaat bagi banyak orang — seperti memasang lampu di jalanan agar orang yang lewat bisa memperoleh pencerahan, tidak gelap, nyaman dan mungkin juga merasa aman. Tetapi juga ada yang mengartikan urip kui murup itu lebih filisofis maknanya, yaitu hidup itu berarti menanam.
Jadi menanam berbagai kebaikan diyakini akan berbuah banyak juga berbagai kebaikan. Seperti dalam keyakinan Umat Islam bahwa msnusia yang paling baik itu adalah nereka yang memiliki manfaat banyak bagi orang lain. Jadi semacam tetumbuhan yang lebat buahnya akan semakin banyak mendatangkan manfaat bagi orang lain. Dalam kata kain, mereka yang tidak dapat nemberi manfaat bagi orang lain — apalagi kemudian justru mendatangkan berbagai masalah — dapat dipastikan merupakan hal yang buruk, bahkan tidak disukai oleh manusia, apalagi oleh Tuhan. Sebab dalam ajaran dan tuntunan agama selalu menganjurkan untuk selalu berbuat bukan hanya kelada manusia, tetapi juga dianjurkan berbuat kepada alam dan lingkungan serta makhluk lainnya yang ada di jagat raya ini.
Agaknya, karena itulah atas nama kemanusiaan, perlakuan manusia terhadap binatang pun harus mengacu pada nikai-nilai kemanusian manusia yang dikatakan oleh Tuhan sebagai khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi. Tampaknya dari perspektif filosofis bahwa hidup itu menanam seperti yang dipertegas oleh Prof. DR (HC). Drs. KH. Habib Khirzin, Ketua Dewan Pembina GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) pada 6 tahun lalu (2019), ketika Sri Eko Sriyanto Galgendu menyeragkan sebuah kendaraan ambulan tertulis dengan huruc kapital “Urip Kui Murup” yang diterjemahkan KH. Habib Khirzin bahwa artinya arti hidup itu adalah menanam.
Ketika dikonfirmasi kepada Sri Eko Sriyanto Galgendu yang kini semakin dikenal sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara, justru dia hanya tersenyum simpul sambil mengurai kenangan masa lalunya yang lucu dan menggelikan itu ketika menyumbang satu unit ambulan lengkap dengan seperangkat alat perlengkapan yang diperlukan masyarakat di sebuah kampung dekat tempat kediamannya dahulu di Solo.
‘Jadi, memberi sumbangan ambulan itu pun, merupakan bisikan yang diterima oleh hati, atau semacam wangsit yang biasa dilakukan oleh Pak Eko Sriyanto”, kata Wowok Prastowo berkisah. Seperti dalam menjalankan usaha kulibernya yang sempat memiliki sejumlah armada dan gerai hingga menampilkan beragam sajian, menu ayam, soto, hingga steak dan martabak yang terus maju dan ramai menyemarakkan suasana kawasan kuliner malam di Jalan Juanda, Jakarta Pusat.
“Sebab setiap kali ingin melakukan sesuatu, ternasuk saat hendak menyumbang sebuah ambulan, saya cuma punya uang Rp 30 juta. Tapi keinginan memberi ambulan sudah menjadi pilihan yang pantas untuk dilakujan”, ujar Sri Eko Sriyanto Galgendu mengurai kisah masa enam tahun lalu itu.












