Begitulah saya membayangkan sajian kawan-kawan dari Majalah Potret yang tetap gigih menyajikan menunya kepada publik melalui foto atau potret yang bagi saya menjadi semacam ungkapan dari profesi yang sakral penuh nilai-nilai spiritual. Sebab sebuah potret — tanpa kata-kata pun — bisa mengungkap kedalaman beragam makna tak hanya sebatas gambar yang terlihat, tetapi juga mampu menghantar imajinasi mengembara jauh ke suatu masa, atau sebuah peristiwa serta nilai-nilai sejarah setelah puluhan tahun foto itu kembali dipandang untuk dikenang.
Sebuah potret semasa kuliah 40 tahun silam saja, nilai sakralnya nyaris setara dengan ornamen batu pahat di sebuah candi yang usianya sudah ratusan tahun itu. Jadi seni potret bisa menjadi dokumen sejarah yang bercerita sendiri tanpa teks. Maka itu, kepiawaian sang kreator — fotographer — sungguh tidak kalah unggul dari jurnalis yang cuma mengandalkan karya tulusnya.
Saya kira begitulah bayangan saya tentang sosok-sosok kawan di redaksi Majalah Potret, mungkin wajahnya sendiri pun jarang dipotret. Tapi saya tetap berdoa: Semoga kawan-kawan di Majalah Potret tetap gigih dan bangga untuk terus berkarya. Sebab dunia tanpa potret akan lebih sulit untuk dijelajahi dalam imajinasi. Lebih dari itu, Majalah Potret pun penting dan perlu untuk melihat Wajah Batin dan spiritualitas diri kita yang sesungguhnya.
Selamat ulang tahun untuk Majalah Potret. Semoga semakin kece. Dan jangan lupa bagi-bagi hadiahnya. Karena yang benar itu, yang ulang tahun yang kasih hadiah. Biar umurnya panjang dan selalu berimpahan berkahnya.
Banten, 9 Januari 2025












