Dewanusantaranews.com – Dalam konsepsi Islam pandangan hidup yang ada berpegang pada Hablum minallah dan hablum minannas. Konsepsi ini menunjukkan adanya hubungan manusia dengan Allah SWT dan hubungan antar
sesama manusia. Konsep ini saling berkaitan dan perlu diseimbangkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya keterkaitan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya — sebagai bagian dari ciptaan Tuhan — yang harus dihormati dan dijaga agar keseimbangan alam tetap dapat terjaga dan lestari untuk memberi manfaat yang tiada terkira bagi manusia.
Penghormatan serta upaya manusia untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan merupakan wujud nyata dari sikap Ketuhanan manusia yang taat dan patuh pemahaman pada makna rahmatan lil alamin bagi seluruh umat manusia yang percaya terhadap cinta dan kasih Allah yang Maha Pemurah, sehingga sangat memuliakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, dibanding dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, termasuk Malaikat.
Oleh karena itu, Syaitan dan Iblis — sebagai penggoda dan pendorong manusia untuk berbuat jahat — sesungguhnya dapat diatasi oleh manusia yang taat dan patuh mengikuti ajaran dan tuntunan dari langit — untuk tidak tergoda dan dijerumuskan oleh Syaitan dan Iblis yang memang diberi tugas untuk menguji keimanan manusia terhadap semua tuntunan dan ajaran Tuhan yang dibawa oleh Nabi untuk menjadi bekal hidup yang teguh melakukan tuntunan dan ajaran yang dibawa oleh agama untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia sampai di akhirat.
Hakekat dari kehidupan kelak di akherat itu hanya mampu dipahami dengan keyakinan melalui kecerdasan spiritual yang tidak mungkin dapat dicapai oleh akal. Karena hakekat dari spiritualitas itu sendiri memang gaib — hanta bisa diyakini dan dipercaya — tanpa perlu hirau dengan kesangsian akal yang hanya terbatas dalam wujud material. Selebihnya, abstraksi pemikiran yang tetap terbelenggu pada pembuktian yang nyata dan harus dapat dicerna oleh akal.
Kesadaran manusia yang ugahari sungguh sangat memahami adanya keterbatasan yang tidak mungkin melampaui kekuasaan Tuhan. Itulah sebabnya rasa rendah hati manusia yang tawadhu itu tidak mau mendahului kekuasan Tuhan seperti yang diekspresikan melalui ungkapan insyaallah. Karena sesuatu yang pasti itu sesungguhnya hanya milik Allah semata. Dan manusia hanya bisa berdo’a dan berupaya, selebihnya ketentuan terap berada dalam kekuasaan Tuhan, seperti hidup dan matinya manusia bila mematuhi sunatullah.












