Begitulah tragika dari obat yang terlambat diberikan. Karena orang yang sakit itu mungkin sudah mati. Sehingga tidak lagi memerlukan pengobatan, kecuali dikafani dan diantar dengan segenap do’a agar arwahnya dapat diterima di disi Tuhan. Dan ternyata dari kisah sepenggal ini sudah cukup menghantar kita untuk memasuki wilayah spiritual yang masih acap dianggap oleh banyak orang cukup rumit, bahkan wingit atau semacam klenik yang masuk dalam katagori sirik dan sejenisnya, termasuk bit’ ah.
Janji yang lebih gawat, bila sampai dibawa mati oleh yang bersangkutan, karena hutang (janji) kita itu belum juga bisa diselesaikan semasa hidup yang bersangkutan. Sebab bisa jadi masalah hutang piutang (janji) itu akan menjadi catatan pertanyaan di akherat oleh malaikat. Agaknya, karena itulah saat penguburan seseorang, dari pihak keluarga sering menyertakan pula pertanyaan saat memberi kata sepatah pada upacara pemakaman, bila hutang yang bersangkutan pada masa hidup, sangat dimohon untuk menghubungi keluarga. Lain cerita untuk siapa saja yang memiliki hutang dengan yang bersangkutan, maka dari pihak keluarga telah mengikhlaskan, bila tidak dapat dijadikan bagian dari pahala baginya.
Boleh jadi atas pertimbangan serupa inilah pemahaman terhadap janji yang dimaknai sebagai hutang sangat peka untuk dilakukan. Sehingga banyak hal selalu diwakili oleh ungkapan insyaallah. Sehingga janji yang dimaknai sebagai hutang, lantaran hutang itu sendiri penuh dengan janji-jani yang gampang dan mudah untuk ditepati atau bahkan bisa dengan mudah dikemplang, alias tidak dibayar. Jadi janji dan hutang itu sendiri rentan terhadap kejujuran. Apalagi keikhlasan.
Yang istimewa dan spesial adalah janji-jani yang termuat dalam kitan Perjanjian dari langit. Karena janji di dalamnya langsung menghunjam.ke kedalaman jiwa untuk ditaati mulai dari sendiri. Inilah nilai-nilai religiusitas dalam dimensi spiritual karena merupakan dasar yang harus ditaati mulai dari dalam diri sendiri. Baru kemudian dapat melangkah melalukan pengembaraan spiritual yang tiada batas itu. Karena kejujuran, kerendah-hatian merupakan disiplin utama yang tidak ada tawar-menawar. Bila gagal dan lalai, maka dengan sendirinya semua hajat dari laku spiritual itu menjadi gagal.
Perjanjian terhadap diri sendiri itu adalah komitmen yang mendasari keimanan Terhadap Tuhan Yang Maha Mutlak. Itulah sebabnya berpuasa itu menjadi bagian yang penting dan perlu dilakukan juga dalam setiap tahapan laku spiritual. Karena puasa bukan hanya sekedar untuk menjaga kedisplinan diri, tetapi keikhlasan dalam melakukan puasa adalah kejujuran yang harus dimulai oleh diri sendiri terhadap diri sendiri juga. Kejujuran dan kedisiplinan dalam menunaikan puasa itu — apalagi yang wajib seperti pada bulan Ramadhan itu — akan menjadi fondasi karakter yang kukuh dan kuat, tak hanya secara fisik, tetapi juga dalam urusannya dengan batin yang lega-lila. Pasrah hingga mencapai dimensi yang kaffah. Dan spiritualitas itu untuk membekali diri agar tangguh dan kuat dalam takaran batin yang prima.
Banten, 25 Desember 2024












