P. Siantar – Dewanusantaranews.com – Mobil perpustakaan keliling yang semestinya menjadi layanan jemput bola untuk mendorong minat baca masyarakat Kota Pematangsiantar, justru terlihat lebih sering terparkir di halaman Kantor Wali Kota ketimbang beroperasi melayani warga.
Fasilitas yang dirancang untuk menghadirkan akses literasi ke sekolah, kelurahan, serta ruang publik itu dinilai tidak difungsikan maksimal dan hanya menjadi simbol program semata.
Padahal, keberadaan mobil perpustakaan keliling diharapkan mampu membawa buku, ruang diskusi, serta aktivitas edukatif ke wilayah yang jauh dari akses perpustakaan fisik.
Rudi (38), salah seorang warga, menyayangkan kondisi tersebut.
“Kalau mobilnya hanya diparkir di kantor, apa manfaatnya? Kami di wilayah pinggiran jarang tersentuh layanan baca. Program seperti ini seharusnya turun langsung ke masyarakat, bukan sekadar jadi pajangan,” ujarnya.
Pandangan senada disampaikan aktivis literasi lokal, Lina Siregar. Ia menilai mangkraknya fasilitas tersebut mencerminkan lemahnya komitmen pemerintah terhadap pengembangan budaya baca.
“Mobil perpustakaan keliling merupakan instrumen penting untuk membangun kebiasaan membaca sejak dini.












