“Dengan pemahaman iklim, petani dapat mengurangi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem, serta melakukan tindakan antisipatif dan mitigatif di lapangan. Inilah bentuk nyata kontribusi BMKG bersama pemerintah daerah dalam mendukung Asta Cita sekaligus mewujudkan pertanian tangguh dan berkelanjutan,” terangnya.
Sementara itu, Plt Kepala Stasiun Klimatologi Riau, Joko Yulianto Ariantono, menjelaskan bahwa fokus utama SLI adalah komunitas pertanian padi yang rentan terdampak perubahan iklim.
“Ketidakpastian curah hujan sering menimbulkan kerugian besar bagi petani. Melalui SLI, peserta dilatih melakukan mitigasi dan adaptasi, sehingga mampu menjaga produktivitas padi meski menghadapi tantangan iklim,” katanya.
Materi yang diberikan dalam kegiatan ini meliputi pemanfaatan data iklim BMKG untuk perencanaan tanam, strategi optimalisasi produksi, hingga teknik budidaya hemat air pada sawah kering. Selain menambah pengetahuan teknis, SLI juga menjadi wadah memperkuat kolaborasi antara pemerintah, BMKG, penyuluh, petani, dan pihak swasta.
Dengan pemahaman mendalam terhadap informasi iklim, peserta diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Siak, sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Parlindungan Tambunan












