Ini bukan soal menolak cinta. Ini tentang memahami bahwa cinta tidak pernah memaksa, tidak menekan, dan tidak merendahkan martabat. Jika sebuah hubungan menghadirkan rasa takut, kehilangan harga diri, atau tekanan psikologis, maka itu bukan kasih sayang, melainkan bentuk dominasi yang terselubung.
“Perempuan berhak dicintai tanpa manipulasi, tanpa tekanan, dan tanpa eksploitasi atas nama perasaan. Perempuan bukan objek pujian musiman, melainkan pribadi utuh yang bermartabat dan layak dihormati setiap saat”.
“Kasih sayang yang sehat tumbuh dalam rasa syukur kepada Tuhan, dalam penghormatan terhadap diri sendiri, dan dalam komitmen memperlakukan sesama secara adil dan beradab” kesan nya saat ditemui di Resto Blue diamond jalan gereja .
“Sudah saatnya kita berhenti mengukur cinta dari cokelat dan bunga semata. Yang jauh lebih penting adalah konsistensi sikap, tanggung jawab, serta keberanian menolak relasi yang merugikan”.
“Valentine seharusnya menjadi pengingat bahwa cinta sejati hidup dalam tindakan sehari-hari dalam integritas, perlindungan terhadap yang lemah, dan keberanian melawan ketidakadilan. Kasih sayang yang bermartabat tidak menunggu tanggal di kalender. Ia hadir setiap hari, dalam kesadaran untuk menjaga diri dan menghormati sesama”pungkasnya.
(AG)












