P. Siantar – Dewanusantaranews.com – Ruang-ruang publik dipenuhi simbol cinta: bunga, cokelat, dan nuansa merah muda.
Perayaan Hari Valentine seakan menjadi momentum tahunan untuk menunjukkan kasih sayang secara terbuka dan simbolik.
Valentine seharusnya menjadi ruang refleksi, Sebuah pengingat bahwa cinta pertama dan utama adalah kepada diri sendiri dengan menjaga harga diri, merawat kesehatan mental, serta menegaskan batas yang sehat dalam setiap relasi.
Cinta sejati bukanlah euforia sesaat yang dirayakan setahun sekali, melainkan kesadaran harian untuk hidup dalam ketenangan, tanpa drama dan tanpa kebutuhan akan validasi semu.
Tidak sedikit persoalan yang bermula dari relasi yang tampak “manis” di permukaan” urai Taruli
Sabtu (14/02/2026)
Disaat perayaan Valentine day .
Fenomena di kalangan anak muda menunjukkan bahwa simbol-simbol Valentine kerap disalahgunakan sebagai pintu masuk manipulasi emosional. Rayuan, hadiah, dan perhatian sesaat dapat berubah menjadi tekanan, eksploitasi, bahkan kekerasan berbasis relasi. Perempuan terutama yang masih mencari pengakuan sering kali menjadi pihak yang paling rentan.












