Anuar menegaskan bahwa permohonan dana perbaikan pintu air ini telah ia ajukan sejak dua tahun lalu, namun selalu diabaikan.
“Pemkab Kubu Raya melemparkan tanggung jawab ini ke pemerintah provinsi, sementara Pemprov Kalbar menyatakan bahwa ini merupakan wewenang kabupaten. Mereka saling lempar tanggung jawab tanpa solusi. Saya sebagai kepala desa kebingungan, siapa sebenarnya yang memiliki kewenangan atas perbaikan ini?” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengkritik kepemimpinan yang saat ini berkuasa, yang dinilainya tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi warga.
“Kalau sebelumnya mereka pernah menjanjikan bantuan, lalu kini tidak ada realisasinya, ini sangat mengecewakan. Dimana janji mereka?” pungkasnya dengan nada geram.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada respons dari pihak terkait mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk menangani kerusakan pintu air tersebut. Warga Dusun Betutu Raya kini hanya bisa berharap agar bantuan segera datang sebelum bencana yang lebih besar terjadi.
Lp //Aktivis98












