Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Jacob Ereste : Renungan dan Do’a Pada Hari Pahlawan

×

Jacob Ereste : Renungan dan Do’a Pada Hari Pahlawan

Sebarkan artikel ini

Banten – Dewanusantaranews.com – Kongres Pemuda 10 November 1945 di Yogjakarta dicatat dengan baik oleh wartawan Rosihan Anwar dalam biografi Soedarpo Sastrosatomo, tokoh PSI ( Partai Dosialis Indonesia) yang relatif dekat dengan Bung Karno, Moch. Hatta dan Sutan Syahrir serta para tokoh pergerakan Indonesia lainya sebelum dan sesudah kemerdekaan Bangsa Indonesia, para 17 Agustus 1945

Biografi Soedarpo Sastrosatomo “Bertumbuh Melawan Arus” ditulis wartawan senior Haji Rosihan Anwar dalam gaya jurnalistik yang kocak penuh rasa humor yang kental serta terkesan jadi sangat akrab.

Pada 10 November 1945, Soedarpo Sastrosatomo sebelumnya berada di Surabaya untuk ikut menghadapi agresi Nica Belanda yang membuat ulah untuk merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia. Walhasil, Soedarpo Sastrosatomo harus sampai di Yogyakarta pada hari itu juga untuk mewakili pemuda sebagai anggota Kongres yang terkenal serta menghebohkan itu. Karena hadir juga Soekarno dan Moch Hatta dengan sejumlah tokoh pergerakan lainnya dari berbagai penjuru tanah air. Pada saat yang sama terjadi pertemputan hebat dimana-mana, kata Rosihan Anwar berkisah. Selain di Surabaya yang terkenal heroik itu juga pertempuran terjadi di Semarang, Ambarawa, Magelang dan Jakarta. Sebab serdadu-serdadu Nica dari Batalyon 10 terus menyebar teror dan agitasi sampai ke kampung-kampung di Jakarta. Pendek kata, dimana adanya pertempuran, di sana pasti ada kampung yang terbakar. Komponis Cornel Simanjuntak bergabung dengan rakyat berjuang di daerah Tanah Tinggi, Jakarta Timur.

Baca Juga  Respon Polisi di Bawah Kemendagri, Ketua KNPI Riau Bilang Ide yang Tepat, Larshen Yunus : "TNI Saja di Bawah Kemenhan"

Kesaksian wartawan senior yang melintasi berbagai jaman ini memang dikenal juga sebagai pejuang, aktivis, seniman yang akrab dengan kaum pergerakan. Karena memang kawan seangkatan Rosihan Anwar umumnya para pejuang. Meski tak sedikit diantaranya juga yang mengambil kesempatan berada di seberang kaum pergerakan. Paparan ini menggambarkan betapa heroiknya bangsa Indonesia ketika menghadapi kaum penjajah pada tanggal 10 November 1945 yang tidak kalah sengit dengan yang terjadi di Surabaya, sehingga tanggal tersebut di peringati sebagai hari Pahlawan bagi Bangsa Indonesia untuk tetap mengenang para pejuang yang telah mengorbankan segala-galanya untuk Indonesia Raya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *