Tapi pada usia tua seperti sekarang ini, kata Habibie berkisah, “saya merasa hampa” Ada pilu mendesah fi sudut hati yang sepi. Tidur pun tak nyaman. Meskipun banyak foto kesaksian masa lalu ketika masih perkasa dan energik yang penuh kenangan fi rumah besar tempat tinggalnya yang asri dan indah, tetap saja merasa kesepian. Karena tiada suara anak, tiada ada suara cucu, sehingga yang terdengar detai ejekan jam dinding yang teratur berdetak, seperti menghitung saat kematian tiba.
Punggungnya yang terasa sakit, kata Habibie berkisah saat diusia tuanya, sesekali air liurnya pun keluar dari mulutnya. Dan dari sudut matanya yang telah melamur juga ada air mata yang menetes, menandai kerinduan kunjungan anak dan cucunya. Tapi semua anak-anaknya beserta cucu sibuk dan tinggal jauh di kota dan juga di negara lain.
Dia merasakan waktu begitu lama bergerak. Hingga tatapan matanya semakin hampa. Jiwanya pun kosong, hanya resah dan gelisah yang menyeruak sepanjang waktu. Kata Habibie pada akhir tulisan pengakuannya, “barangkali lelaki renta itu adalah saya. Atau barangkali juga adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti”, katanya berpesan. Begitulah pesan dan kesaksian Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, mantan Presiden Indonesia dipenghujung usianya yang penuh muatan nilai spirituslitas
Banten, 19 Januari 2025












