Selain itu, tentu saja peralatan kerja, jaminan kesehatan serta tempat pelayanan jika petani milenial tersebut jatuh sakit atau kecelakaan saat melakukan pekerjaannya. Sebab untuk mencetak sawah baru itu bisa segera dibayangkan semak belukar atau hutan belantara yang sangat mungkin tidak pernah dibayangkan oleh petani milenial dari perkotaan yang yang terlanjur biasa keluar-masuk mall dan super market, atau bahkan diskotik dan sejenis tempat hiburan yang tidak semua orang sudah memahami — apalagi mengalaminya — seperti budaya anak muda perkotaan umumnya.
Yang jelas, kebiasaan yang sedang terus berproses menjadi budaya masyarakat umum diperkotaan — yang sudah tentu lebih dominan kaum milenial — adalah sock budaya pertanian yang jauh dari komunitasnya yang sudah terbangun — lalu harus bekerja di lahan persawahan yang mungkin juga belum pernah dinikmati dalam suasana yang serba baru hingga pemondokan tempat tinggal, mungkin dalam bentuk barak.
Dalam kondisi dan situasi yang terkesan cukup darurat inilah, Indonesia ingin bangkit dari posisinya yang sedang terjerembab — untuk segera memasuki gerbang peradaban baru kemerdekaan Indonesia setelah hampir genap seabad letih berjalan, seakan tak pernah kunjung sampai di tujuan pokok kemerdekaan, yaitu mengatasi kemiskinan dan memberantas kebodohan untuk menjadi manusia yang cerdas tidak hanya dalam arti intelektual, tetapi cerdas dalam dimensi spiritual. Karena itu dapat segera dipahami. Sebagai pertanda dari serius atau tidaknya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sejauh mana dia masih harus mengerahkan segenap sumber daya dan kemampuan yang untuk mewujudkan Trisakti: kedaulatan segenap warga bangsa Indonesia dengan kemandirian ekonomi dalam genggaman sendiri untuk mewujudkan kepribadian bangsa Indonesia yang luhur dan terhormat dengan harga diri yang tinggi, tidak bisa dibeli.
Oleh karena itu, sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas tidak bisa disimpan di dalam brankas bank, perusahaan besar setara Pertamina hanya ingin memanjakan diri sendiri, tetapi seruan revolusi belum selesai harus dilanjutkan dengan gigih dan tulus demi merah putih seperti simbolika dari kabinet Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan, dan kemandirian energi nasional seperti yang telah digaungkan oleh pertamina harus dapat dirasakan nikmatnya yang nyata bagi rakyat. Bukan omon_omon belaka.
Tigaraksa, 13 November 2024












