Meskipun kawan tadi sudah berulang kali melaksanakan ibadah haji ke Mekkah itu, toh gelar yang sering ditempelkan banyak orang di depan namanya itu dengan gelar “Haji” atau “Hajjah” untuk perempuan tidak pernah tertera bersama namanyas yang sederhana dan terkesan sungguh ugahari itu. Padahal, kalau saja dia mau memajang semu gelar yang dianggap banyak orang mampu menaikkan gengsi atau harkat dan martabat dirinya, mungkin panjangnya akan menjadi nama terpanjang di dunia, seperti nama-nama raja yang pernah ada.
Jadi gelar apapun namanya itu, hanya pantas disebut dan diakui oleh orang lain, bukan ngegragas dengan kemauan sendiri. Sebab kalau dengan menyebut sendiri sejumlah gelar yang bisa dimiliki oleh banyak orang ini, akibatnya bisa dianggap tidak tahu malu, atau bahkan akan mengesankan
kesombongan diri. Apalagi kemudian, bobot yang ada di dalam gelar itu tidak bisa dibuktikan kualitas dan kepiawaian yang bisa dinikmati oleh orang lain. Alias gelar sepuhan, seperti cincin atau gelang dan kalung imitasi.
Kawan penulis yang bijak tadi itu berpendapat bahwa gelar Imitasi itu adalah bagian dari fenomena etika, moral dan akhlak yang bobrok. Karena itu, kesadaran serta pemahaman spiritual sebagai pengasuh etika, moral dan akhlak mulia manusia perlu terus disemai agar dapat terus bertumbuhan di taman hati yang indah dalam hidup dan kehidupan ini.
Banten, 18 Oktober 2024












