Karena itu nilai kesetaraan harus mampu mengatasi masalah superioritas — apalagi di Indonesia yang mayoritas umut Islam — namun selalu terkesan “minoritas” dalam banyak hal, utamanya politik, ekonomi dan budaya serta gerakan kesadaran sosialnya yang sungguh sangat potensial, namun realitasnya selalu kalah dan tersisihkan seperti masalah Islamophobia itu sendiri yang justru tidak cukup mendapat respon positif dari umat Islam.
Dari aktivitas dan gerakan sosial yang tercatat dalam data Atlantika Institut Nusantara sejak tahun 1990, adanya kecenderungan dari model pergerakan yang over individual confidence atau sifat dan sikap untuk menampilkan diri sendiri, kelompok atau golongan yang sering terkesan selalu merendahkan pihak lain.
Itulah sebabnya pada ranah politik, partai Islam nyaris tidak bisa tampil, apalagi untuk diharap menjadi partai terdepan yang mampu menyuarakan aspirasi anggotanya yang cenderung cuma dijadikan kuda tunggangan. Demikian juga dalam organisasi pergerakan lainnya. Potensi umat Islam sendiri yang sesungguhnya bisa banyak belajar dari keberadaan ormas keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU (Nahdatul Ulama) bisa menjadi cermin diri yang baik untuk bisa mempercantik tampilan yang rendah hati dan ugahari.
Definisi Islamophobia yang dirilis secara meluas oleh Wati Salam di berbagai media itu, sungguh menarik menjadi kajian yang lebih meluas, siapa tahu dari lingkungan terdekat sendiri belum cukup memahami bahwa penyebab Islamophobia itu (seperti yang telah diuraikan oleh Bunda Wati Salam pada point 1) memangnya pemahaman tentang tuntunan dan ajaran agama Islam yang sesungguhnya. Dan satu point penting lainnya adalah, kegagalan dialog antar agama dan budaya. Sehingga cukup patut untuk diduga, adanya anggapan bahwa pemikiran, pendapat serta keyakinan yang dicerna di dalam manset kita sendiri sesungguhnya sudah usang. Atau bahkan sama sekali keliru, sebab kita tidak pernah mau mendengar dan menyerap pendapat atau anggapan dari orang lain. Kendati premis mereka itu pun salah, dalam arti secara intelektual maupun dari perspektif spiritual yang cerdas serta mumpuni.
Karena itu, cara mengatasi Islamophobia, semua bentuk dan usaha pelaksanaan pendidikan dan pemahaman tentang Islam. Perlunya dialog antar agama dan budaya. Tentu saja yang tidak kalah penting adalah mengembangkan empati dan toleransi, dan membangun komunitas yang inklusif, tidak ekslusif.
Banten, 25 Desember 2024












