Etika global sebagai konsensus moral bersama antar umat beragama, menurut Dr. H. Sholihan M.Ag., dapat dilihat dari arah yang sebaliknya, yaitu sebagai langkah kooperatif yang kritis untuk merumuskan tanggung jawab global guna menghadapi krisis global yang bersifat fundamental yang sedang melantak dunia. Karena akibatnya jelas menjadi ancaman bagi masa depan manusia di bumi, tanpa kecuali bagi seorang pun.
Karena itu, semboyan membangun jiwa lebih dahulu dan lebih penting dari membangun raga bagi manusia (Indonesia) sejak kesadaran kemerdekaan di proklamasikan pada tahun 1945. Sebab upaya membangun jiwa yang kuat dan tegar akan menjadi pendorong upaya dari membangun raga yang memiliki wilayah terbatas pada cakupan intelektual, diluar kemampuan dan kecerdasan spiritual. Kaitannya dengan etika global yang dicanangkan oleh Parlemen Agama-agama Dunia sebagai respon pada modernisme yang telah melontarkan ilmu pengetahuan setinggi langit tanpa kebijakan dengan teknologi tanpa spiritual dan industri yang mengabaikan ekologi serta demokrasi hampa moralitas, adalah pemicu krisis fundamental; krisis ekonomi, krisis ekologi dan krisis politik dalam skala global seperti yang dirumuskan oleh Hans Kung yang menjadi konsep dasar dari gagasan pokok Parlemen Agama-agama Dunia yang implisit mengakui tengah menghadapi ancaman peradaban yang serius bagi umat manusia dalam peralihan siklus tujuh abad ke empat sekarang ini.
Dalam siklus peralihan tujuh abad ke empat, sungguh sangat diyakini oleh para penekun laku spiritual akan segera munculnya suatu bentuk peradaban baru manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Atau semacam titik balik — atau semacam penyimpangan — dari peradaban yang cuma mampu diperkirakan semacam benturan peradaban. Hingga pertanyaan tentang keberadaan etika global jadi semakin relevan untuk dibicarakan.
Banten, 11 Oktober 2024












