Dewanusantaranews.com – Yang menarik deklarasi etika global yang diproklamirkan oleh Parlemen Agama-agama Dunia sungguh menarik dan mengindikasikan bahwa deklarasi yang diekspresikan secara universal– global — bermula dari motivasi keagamaan bahwa realitas dunia empiris saat ini bukan realitas dan kebenaran spiritual yang intim, suprim dan absolut. Jadi, etika global dan nilai-nilai humanistik yang diurai Dr. H. Sholihan M.Ag, bahwa dalam etika global yang sangat diperlukan tidak hanya sekedar kesadaran kosmis, harmoni global, kreatifitas spiritual, kesatuan universal, cinta untuk semua dan visi spiritual untuk dunia yang lebih baik, tetapi juga bermuka dari realitas ekonomi, politik dan sosial masyarakat industri yang sangat kompleks dan rumit.
Apresiasi Dr. H. Sholihan M.Ag, tentang etika global yang dideklarasikan oleh Parlemen Agama-agama Dunia adalah suatu etika yang berlandaskan pada nilai-nilai etik dari agama-agama yang ada di dunia. Tapi etika global bukan ideologi global atau kesatuan agama diatas semua agama yang ada. Dan tidak juga ada dominasi satu agama terhadap agama yang lain.
Karena itu, etika global sebagaimana yang dimaksud dari Parlemen Agama-agama di dunia yang ada adalah konsensus fundamental tentang nilai yang mengikat, standar permanen yang tidak bisa diganggu gugat, dan sikap personal. Maka itu, komitmen pada budaya non kekerasan dan hormat pada kehidupan.
Bahkan, komitmen pada budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil, hingga komitmen pada budaya toleransi dan hidup yang benar, hingga komitmen pada budaya persamaan hak dan kemitraan-sejajar antara laki-laki dengan perempuan.
Signifikansinya etika global bagi Mada depan umat manusia dalam beragam bangsa di dunia, tidak untuk mereduksi agama pada level yang semata-mata bersifat moral. Bahkan etika global tidak menafikan karakteristik yang khas dari setiap agama yang ada.












