Jika saja jejeran bambu yang dijadikan tiang panjang pagar laut yang dianggap milik nelayan itu bisa dihitung, mungkin jutaan batang — atau bahkan mungkin ada ribuan rumpun bambu yang telah di tancapkan di laut — yang jelas dan pasti tidak bersalah dan tidak juga berdosa itu. Lantas berapa nilai rupiahnya jika harus dibayar dari sejumlah kebun bambu hingga sampai ke bibir laut serta upah untuk membenamkannya ke dasar laut ?
Seperti itulah drama di negeri konoha yang lebih dramatik dari karya sineas Indonesia yang justru ikut menonton drama sebabak di laut yang justru tidak diberikan otoritas kekuasaan serta pengelolaannya kepada Angkatan Laut Republik Indonesia — yang seharusnya bisa lebih gagah dan lebih perkasa dari pada Angkatan Laut Kerajaan Sriwijaya maupun Kerajaan Majapahit hingga masa kejayaan Laksamana Malahayati dari Kesultanan Aceh dulu. Lantas berapa nilai duit haram — karena tidak menjadi berkah yang dapat member manfaat bagi orang banyak yang telah tenggelam di laut itu ?
Setidaknya paparan kisah yang tragis ini telah mengalihkan perhatian banyak orang untuk sejenak melupakan harga bahan pokok yang semakin mencekik. Dan abai untuk memberi perhatian serta bantuan untuk kemanusiaan yang sedang didera oleh bencana. Jadi, drama pagar laut milik nelayan yang absurd, memang lebih terkesan dramatik dari pertunjukan “Menunggu Godot” di panggung teater tahun 1970-an dulu di Indonesia.
Banten, 22 Januari 2025












