Jakarta – Dewanusantaranews.com – Harapan Sri Eko Sriyanto Galgendu sebagai Pemimpin Spiritual Nusantara dalam pemerintahan baru Presiden Jendral (Purn) H. Prabowo Subianto melibatkan para tokoh agama sebagai penasehat Presiden dan Pemerintahan agar memiliki landasan spiritual yang kuat menjaga etika, moral dan akhlak dalam menentukan kebijakan dan pelaksanaan program yang diorientasikan untuk rakyat.
Selama pemerintahan Indonesia berdiri dan diproklamasikan pada masa pertama Presiden Soekarno belum pernah melibatkan pemuka agama yang ada, hingga Presiden Prabowo Subianto perlu memposisikan peran tokoh agama untuk memberi landasan pijak spiritual menjaga harkat dan martabat bangsa dan negara yang kokoh memiliki pijakan etika, moral dan akhlak, tandas Sri Eko Sriyanto Galgendu saat ngobrol santai di Wedangan Uduk Mabes, kawasan kuliner malam, 16 Oktober 2024 di Jalan Juanda, Jakarta Pusat.
Selama ini, menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu yang telah menekuni laku spiritual sejak 28 tahun silam, semasa masih tinggal di Solo, para tokoh agama di Indonesia hanya dijadikan semacam “petugas pemadam kebakaran”, saat ada masalah para tokoh agama diminta untuk meredakan yang acap disulut oleh masalah keagamaan. Setelah 28 tahun menjalani laku spiritual dengan serius, kini Sri Eko Sriyanto Galgendu mulai konsentrasi menekuni untuk mengurus bisnis kuliner yang sudah mempunyai empat gerai dengan trade mark “Ayam Ancuur”, “Soto Gubeng” dan “Sate Bumbu Kacang Mete” serta angkringan “Wedangan Uduk Mabes” di sepanjang jalan Juanda Jakarta Pusat. Dia ingin menjadikan kawasan ini menjadi destinasi wisata spiritual yang mendukung Jakarta sebagai kota bisnis internasional.
Untuk memberi muatan etika, moral dan akhlak yang kuat yang memberi bobot pada pemerintahan Presiden Prabowo, usulan serius yang diungkapkan Pemimpin Spiritual Nusantara atas dasar kemerosotan etika, moral dan akhlak para pejabat negara, seperti tercermin dalam sikap serta perbuatan yang terimplementasikan dalam tugas maupun kewajibannya dalam mengemban amanah rakyat yang tidak selaras dengan apa yang diharapkan.
Sikap tidak beretika, tidak bermoral dan tidak mencerminkan akhlak yang mulia itu, tampak dominan menimbulkan suasana kacauk dan khianat pada amanah rakyat.
Usulan gagasan Pemimpin Spiritual Nusantara ini searah dengan apa yang diinginkan Presiden Prabowo Subianto yang tegas hendak menegakkan integritas, mencegah kebocoran Anggaran Pendapatan Belanja Negara(APBN) akan menjadi fokus utamanya yang ketat untuk mencegah dan menindak perilaku korupsi, seperti telah diungkapkan oleh Prabowo Subianto saat memberi pembekalan kepada seluruh calon pembantunya yang akan diajak ikut dalam pemerintahan Indonesia yang baru di Hambalang, pada 18 Oktober 2024, saat menjelang dua hari pelantikan resmi pemerintahan baru Presiden Prabowo Subianto berikut kabinetnya pada 20 Oktober 2024.
Kecuali itu, Prabowo Subianto sendiri telah meminta kepada semua calon pembantunya di kabinet nanti hendaknya berperan aktif dalam melakukan penghematan anggaran di semua sektor.












