Danpos Gome, Lettu Inf Na’im Aryo, mengatakan dengan suara tenang namun penuh keyakinan:
> “Kami hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tapi juga penjaga nurani. Saat saudara-saudara kita di pelosok Papua membutuhkan uluran tangan, maka tugas kami adalah menjadi yang pertama hadir. Karena negara tidak boleh absen, walau hanya satu detik sekalipun, dari penderitaan rakyatnya.”
Kegiatan ini bukan hanya soal mengobati luka. Tapi tentang menyampaikan pesan cinta dari negara kepada rakyatnya—bahwa mereka tidak sendiri, bahwa dalam sunyi hutan dan lembah Papua, Indonesia hadir dalam bentuk tangan yang mengobati, hati yang peduli, dan tekad yang tak tergoyahkan.
Di honai kecil itu, prajurit TNI dan masyarakat menyatu dalam simpul yang lebih besar dari sekadar kewajiban. Mereka menyatu dalam semangat yang sama: bertahan, bangkit, dan melanjutkan hidup—bersama. (Pen Yonif 700)












