“Kalau memang butuh jalan, bangun jembatan. Jangan airnya ditahan. Petani kita harus beli solar untuk pompa, sementara air dari atas justru ditutup. Intinya, air dari Allah itu, air yang disiapkan dari catchment area untuk aliran pertanian, jangan ada yang menghalangi,” tambahnya.
Bupati pun mendorong perusahaan agar terbuka dan memahami persoalan ini sebagai bagian dari keadilan sosial dan arah pembangunan pangan.
“Jangan sampai kita diminta jadi sentra pangan, tapi akses air dikuasai sepihak. Saya minta semua duduk bersama, cari solusi yang adil untuk semua,” ungkap Afni yang juga mantan tenaga ahli Kementerian Kehutanan.
Perwakilan PT Balai Kayang Mandiri (BKM), Wahyu, menyampaikan bahwa perusahaan siap berdiskusi dan memiliki embung internal yang bisa dimaksimalkan dalam aturan yang berlaku.
Bupati Afni menekankan pentingnya solusi jangka panjang. Selain pompanisasi, Pemkab akan mendorong pembangunan embung, irigasi, pencetakan sawah baru, serta pemanfaatan teknologi pertanian.
“Bungaraya ini lumbung padi kita. Jangan sampai gagal panen hanya karena air. Saya mau solusi permanen. Mimpi besar kami adalah membangun waduk.
Kami minta dukungan lahan dari perusahaan, kalau perlu ajukan pinjam pakai. Karena pertanian tidak bisa hanya bergantung pada hujan,” pungkasnya.
Parlindungan Tambunan












