Riau – Dewanusantaranews.com – Presiden Mahasiswa BEM Institut Teknologi dan Bisnis Master, Zermah Randyka, mengecam keras terjadinya pemadaman listrik massal di wilayah Sumatera pada 22 Mei 2026 yang menyebabkan lumpuhnya berbagai aktivitas masyarakat di sejumlah daerah, mulai dari Jambi hingga Aceh.
Menurutnya, peristiwa blackout tersebut bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan mencerminkan adanya kegagalan sistemik dalam pengelolaan ketenagalistrikan nasional.
Zermah Randyka menegaskan bahwa direksi PLN maupun pihak yang bertanggung jawab atas operasional sistem kelistrikan Sumatera harus dievaluasi secara serius karena dinilai lalai dalam menjaga stabilitas dan keandalan pasokan listrik nasional.
Menurutnya, gangguan pada jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai yang kemudian berdampak pada runtuhnya sistem kelistrikan Sumatera menjadi bukti lemahnya desain sistem transmisi PLN. Dalam prinsip rekayasa tenaga listrik modern, sistem seharusnya tetap mampu beroperasi meskipun terjadi gangguan pada salah satu jalur utama, atau yang dikenal dengan standar keandalan N-1.
“Fakta bahwa satu gangguan mampu melumpuhkan pasokan listrik hampir di seluruh wilayah Sumatera menunjukkan adanya persoalan serius dalam desain dan pengelolaan sistem kelistrikan. Ini bukan semata-mata akibat faktor cuaca, melainkan bentuk kelalaian struktural yang harus dipertanggungjawabkan,” tegas Presiden Mahasiswa BEM Institut Teknologi dan Bisnis Master, Zermah Randyka.
Ia juga menjelaskan bahwa sistem proteksi dan pengamanan jaringan PLN diduga tidak bekerja secara optimal. Seharusnya, ketika terjadi gangguan, sistem otomatis dapat mengisolasi titik kerusakan tanpa menimbulkan efek domino terhadap jaringan lainnya. Namun yang terjadi justru pemadaman total berskala besar yang menunjukkan lemahnya koordinasi relai proteksi dan buruknya pengaturan stabilitas sistem.












