Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Inklusifitas Sebagai Identitas, ‘Terbukti Berpengalaman’ Bukan Bualan

×

Inklusifitas Sebagai Identitas, ‘Terbukti Berpengalaman’ Bukan Bualan

Sebarkan artikel ini

Lubuklinggau – Dewanusantaranews.com – Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.12 WIB, seorang pria berambut panjang masih menunggu dengan gelisah di warung makan yang bahkan dirinya tak sempat menghafal namanya.

Dia adalah Frans Sembiring, Ketua Tim Prodi–yang selama ini dikenal dengan sebutan Bang Frans. Sembari berkali-kali menghisap sebatang rokok, pria berperawakan hitam tersebut menunggu dalam gelisah.

Adalah rombongan pasangan calon kepala daerah Kota Lubuk Linggau nomor urut 01, H Rodi Wijaya dan Imam Senen yang menjadi ‘tungguan’ dirinya.

Keduanya akan menghadapi sebuah pertarungan dan pertaruhan untuk membuktikan klaim “Terbukti Berpengalaman” yang mereka gaungkan selama ini.

Gagasan itu akan diadu pada debat perdana calon kepala daerah Kota Lubuk Linggau yang diselenggarakan oleh KPU Kota Lubuk Linggau, Rabu (30/10/ 2024) di Gedung Bagasraya, tepat di sebelah dia berdiri.

Baca Juga  AKP Ahmad Rifai dari Polres Pandeglang Berikan Penyuluhan Kamtibmas dalam Kegiatan TMMD ke-126 Kodim 0601/Pandeglang

Sebenarnya gelisahnya dia bukan karena menunggu kedatangan, namun lebih pada pembuktian. Tak tahan menunggu lama, kakinya pun tak kuasa menahan langkah.

Pria berpostur rata-rata itu tiba di depan pintu ruangan utama yang dijaga ketat oleh aparat keamanan, pakai metal detector segala.

Dia sempat tertahan tak bisa masuk karena Id Card yang dibagi pihak panitia tak merata.Ya, tampaknya sebagian yang datang memang bukan tamu prioritas, bahkan untuk masukpun seolah tak pantas.

Belum sempat menempelkan tulang ekor ke lantai, rombongan mobil yang mengangkut ROIS tiba dengan konvoi santai. Satu, tiga, empat, enam, ada banyak mobil memasuki arena, tak hanya itu,para simpatisan yang berjalan kaki mengekor riang tampak di ujung sana.

Baca Juga  Polres Batu Bara Gelar Operasi Keselamatan Toba 2025

Tak ada gurat malas, apalagi lemas. Semuanya bersemangat dengan gandengan yang semakin erat.

Masuk pria dengan kumis tebal itu dalam ruang debat,jangan tanya dengan apa dia berakrobat,sampai bisa masuk dengan selamat.

Gelisah itu masih ada, bisakah ROIS meredamnya? Atau bahkan menjadi tambah. Bagaimana kalau ROIS tidak paham program, bagaimana kalau argumen ROIS tenggelam,bagaimana kalau lawan hebat bak singa yang mencengkram. Bisa-bisa, “Terbukti Berpengalaman” akan menemui tempatnya karam.

Para pendukung ROIS mulai masuk satu persatu,duduk dengan rapi di kursi sebelah kiri. Kami pandang, seolah tak ada doktrin tentang seragam. Semua bebas hendak menggunakan apa.

Ada yang menggunakan rompi hitam,rompi putih, kemeja, sampai kaos oblong. Di kepala, ada yang pakai peci, topi, sampai blangkon.

Baca Juga  Edarkan Sabu, Sat Narkoba Polres Tebing Tinggi Bekuk Residivis Dari Pinggir Jalan

Bertanya dia pada Sang Panglima, Rahman Sani, mengapa tidak memakai satu seragam saja, hitam semua atau putih tanpa celah.

Rahman Sani tersenyum lalu berujar, “Bagi ROIS, inklusifitas adalah identitas”.

Tak ia teruskan, satu kalimat singkat itu, menjawab semuanya. ROIS mengizinkan masing-masing tim menggunakan almamater kebesaran organisasi relawannya atau bahkan, hanya polosan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *