Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Jacob Ereste : Gelar Imitasi Fenomena Dari Etika, Moral dan Akhlak Memang Bobrok Banten

×

Jacob Ereste : Gelar Imitasi Fenomena Dari Etika, Moral dan Akhlak Memang Bobrok Banten

Sebarkan artikel ini

Banten – Dewanusantaranews.com – Masalah etika, moral dan akhlak manusia Indonesia yang rusak, tidak hanya sebatas mengobrak-ambrik tata aturan politik, ekonomi, lingkungan, tata negara dan upaya membangun bangsa, tapi semakin mendorong hasrat bersaing untuk lebih mengunggguli pihak lain. Itulah sebabnya, gengsi untuk dapat mempunyai sejumlah gelar akademis, gelar adat, gelar bidang keagamaan, menjadi marak. Meski bobot dari orang yang bersangkutan tidak memadai untuk menyandang gelar yang dia peroleh itu. Entah dengan cara membeli atau sogok menyogok guna mempermudah mendapatkan gelar tersebut. Sehingga nilai tebusannya pun tak lagi me jadi soal. Sebab semua itu demi dan untuk menaikkan great gengsi sekedar untuk mengelabui orang lain.

Baca Juga  Gebyar Ramadhan 2025, Wadah Bakat untuk Siswa di Wilayah Sandai

Jadi gelar yang menjadi trend memabukkan banyak orang di Indonesia ini sesungguhnya tidak lebih dari asesoris penghias diri untuk dapat tampil lebih memukau siapa saja yang bisa merasakan kekaguman dari beragam gelar yang tertempel di depan maupun di belakang nama agar dapat mendatangkan citra dari siapapun. Maka itu budaya basa-basi untuk menyebut nama seseorang dengan tambahan gelar yang dianggap bergengsi itu mulai menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita.

Penulis pun — yang tidak pernah menempelkan satu gelar apapun di depan nama maupun di belakang — acap dipanggil dengan tambahan gelar tertentu, baik yang berasal dari perguruan tinggi maupun dari bidang keagamaan. Bahkan, tidak pula sedikit yang menyebutkan nama penulis dengan gelar adat yang mereka peroleh secara spekulatif, sehingga tidak pas pengucapan dalam adat dan budaya masyarakat yang mereka perkirakan.

Baca Juga  Korem 132/Tadulako Gelar Jumat Berkah di Masjid Hamzah, Tebar Kepedulian dan Perkuat Silaturahmi

Gelar yang memabukkan itu, sesungguhnya cermin dari perasaan tidak percaya diri untuk tampil dengan kepribadian yang asli dan otentik sebagai manusia yang telah memiliki nama besar dan baik, manakala apa yang sudah dilakukannya mendapat apresiasi dan penghormatan serta penghargaan dari orang lain. Seorang teman semasa kuliah dahulu kini telah memiliki seabrek gelar akademik tertinggi — bahkan dari masyarakat adat asalnya — toh, tidak satu pernah dia pasang di depan maupun di belakang. Termasuk saat dia pulang dari Tanah Seci sesuai menjalankan rukun Islam yang kelima, tidak juga berhasrat menempelkan gelar haji di depan nama nya yang sudah beken dan terkenal itu.

Baca Juga  Polsek NA IX-X Intensifkan Patroli Blue Light, Kapolres Tekankan Komitmen Berantas Kejahatan Jalanan

Dalam rukun Islam memang ada lima prinsip dasar yang harus diyakini dan dilakukan oleh umat. Islam, yaitu membaca dua kalimat syahadat, sebagai pengakuan terhadap Allah SWT dan Nabi besar Muhammad SAW sebagai Rasul Allah. Lalu mendirikan sholat, membayar zakat dan menunaikan puasa pada bulan ramadhan serta melaksanakan ibadah haji ke Mekkah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *