Dalam kejadian tersebut, Pakar Hukum internasional dan Ketum Partai Oposisi Merdeka Prof.Dr.KH Sutan Nasomal S.Pd.I, S.E.,S.H., M.H, LLB. LLM., PhD
dengan tegas menyayangkan dan mengecam keras aksi keji yang menimpa empat wartawan tersebut dan menyebut kejadian ini sebagai bukti nyata bahwa kebebasan pers di Indonesia masih dalam bayang-bayang kekerasan dan ancaman para mafia.
“Ini tindakan biadab! Wartawan yang sedang menjalankan tugas malah dirampok, dianiaya, bahkan diperas oleh kelompok mafia tambang dan BBM subsidi. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga ancaman serius terhadap demokrasi dan kebebasan pers harus ditegakkan di Indonesia! ujar Tokoh Pers Internasional dalam pernyataan resminya, Minggu, 18 Maret 2025,’ Prof.Dr. Sutan Nasomal SH.MH.dalam pres rilisnya yang dikirim kesemua media cetak onlen dalam luar negeri Asia Asean Eropa.
Ironis memang kalau sampai hari ini kebebasan pers di Indonesia belum seperti diluar negeri dinegara negara liberal sana sesal Tokoh Pers Internasional memberikan komentar pedasnya atas kasus dialami para wartawan wartawati diwilayah hukum Mapolda Sumatera Barat di Kab Sawah Lunto Sijunjung itu.
Kalau kasus ini tidak segera diusut tuntas, maka akan menjadi sejarah buruk bagi dunia jurnalistik di Indonesia, tidak boleh ada impunitas bagi para pelaku kekerasan terhadap wartawan, polisi harus mengusut dengan tuntas kasus ini,’ kata Prof.Sutan Nasomal.
Kami mendesak Kapolri melalui jajaran kepolisian di Sumatera Barat untuk segera menangkap pelaku, termasuk oknum pejabat yang diduga terlibat! Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin wartawan di daerah lain akan mengalami nasib serupa di kemudian hari,’ ungkapnya.
Saya menegaskan bahwa kejadian ini semakin menunjukkan betapa lemahnya perlindungan hukum bagi wartawan di Indonesia. Jika seorang jurnalis tidak bisa menjalankan tugasnya dengan aman, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan informasi yang benar, akurat dan transparan di negara ini ?,’ celoteh Sutan Nasomal.
“Kita sedang menghadapi era di mana mafia semakin berani, sementara aparat penegak hukum malah terkesan semakin tidak berdaya. Jika tidak ada tindakan tegas, maka kebebasan pers akan mati, dan masyarakat akan terus dibodohi oleh informasi yang dikendalikan oleh kelompok tertentu,” tegas Prof. Sutan Nasomal.
Peristiwa ini suatu tindakan biadab yang tidak memiliki moral, sehingga apa yang dialami rekan satu profesi sebagai pekerja media telah membuat seluruh jurnalis berang.
“Jangan takut, kita lawan bentuk sikap biadab yang ditunjukkan oleh preman itu. Saya juga berharap aktor intelektualnya juga harus ditangkap oleh Polda Sumbar yang sudah bekerja melakukan penyelidikan di TKP, ” tambahnya.
Oleh karena itu, dirinya meminta kepada seluruh wartawan yang ada di Sumbar khususnya, dan di seluruh Indonesia juga turut membantu masyarakat dan penegak hukum serta mempercayai kinerja penegak hukum Polda Sumbar dalam menangani Insiden yang telah dialami empat rekan wartawan.
Ia juga meminta agar kepada para wartawan (jurnalis) sebagai rekan sejawat, agar tidak boleh menyerah dengan aksi-aksi yang dilancarkan para preman. Wartawan tidak perlu takut oleh pihak manapun sejauh dalam melaksanakan tugas selalu berpatokan kepada aturan,” pungkas Prof Dr KH Sutan Nasomal Ketum Partai Oposisi Merdeka.












