Bahkan, peralatan komputer pun yang memproses laporan yang telah siap disajikan itu, ikut rusak seakan dusantet oleh makhluk yang sukar diidentifikasi sosok maupun wajah tamoilannya.
Kekecewaan yang amat sangat mengganggu secara psikologis ini hanya mungkin dapat diatasi dengan cara menghibur diri, agar tidak sampai semakin memperparah rasa derita yang tidak bisa disublimasikan kepada bentuk yang lain, kecuali sabar dan pasrah untuk tetap gigih dan tangguh menulis ulang laporan yang raib ditelan setan itu, sebagai kambing yang hitam. Supaya tidak perlu berprasangka buruk kepada pihak manapun.
Selebihnya adalah menaruh prasangka baik kepada peralatan komputer sendiri yang sudah amoh — usang dan myngkin juga sudah haus — lantaran peralatan yang telah bertahun-tahun digunakan, tanpa pernah dipikir untuk diremajakan.
Jadi pengalaman bagi seorang penulis yang paling tidak enak itu adalah kehilangan tulisan yang sudah tinggal dipublis, lalu raib seperti ditelan syetan yang memang tidak jelas wujudnya. Maka itu yang paling aman menuding peralatan komputer atau hsndphond yang sudah sakut-sakitan karena usianya sudah renta, alias jompo yang mungkin dibarengi oleh gejala asam urat, reumatik dan berbagai penyakit diusia tua. Toh, yang penting serta patut disyukuri penyakit serupa itu tidak melanda dan mendera jiwa dan raga penulisnya.
Ternyata, dari pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman yang tidak kalah penting dari semua perjalanan hidup yang dinikmati dengan cara spiritual — untuk tidak menyebut sufistik — adalah menerima semua yang hilang (apalagi hanya sebuah tulisan yang sudah siap untuk dipublis sekalipun) bukan sebagai pertanda kiamat. Sebab hidup dan kehidupan dengan sejuta harapan masih banyak tersedia, meski kesabaran harus diulur seperti menunggu Dewi Fortuna yang akan diturunkan Tuhan dari langit
Banten, 3 Februari 2025












