Pada tahapan berikut memasuki leven hakikat sebagai kenyataan yang sesungguhnya yang memiliki kandungan makna yang bersifat ilahiyah. Seperti manusia yang terdiri dari jasmani, akal dan ruhani yang meliputi jiwa, rasa, naluri serta kepercayaan yang lebih bersifat spiritual. Inti pokok dari hakikat adalah upaya menjernihkan hati dan mensucikan atau membersihkan hati dari segala yang bisa menyebabkan membuat jarak dengan Tuhan. Itulah sebabnya dalam berbagai kepercayaan ada yang menyatakan upaya menyatukan diri dengan Tuhan. Atau manungaling kawulo lan gusti. Lalu ada yang tergelincir mengartikannya bahwa Aku adalah Tuhan. Sehingga Tuhan tidak lagi Esa adanya.
Pada tahapan inilah wilayah makrifat bisa ditapaki sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui akal namun kepercayaan terhadap keyakinan harus selalu melalui sensor hati yang bersih dan jujur yang muncul dari kedalaman rasa dan percercapan dalam penghayatan yang murni bersumber pada lubuk hati sendiri.
Begitulah suasana hati seorang sufi yang merasa begitu dekat dengan Tuhan. Sehingga Tuhan acap digambarkan berada lebih dekat dari urat nadi setiap manusia yang mampu merasakannya, bukan dengan cara merasionalkan keyakinan itu yang tidak mungkin terjangkau oleh akal. Maka atas dasar inilah kecerdasan intelektual tidak bisa menjelajah wilayah yang dapat dilakukan oleh kecerdasan spiritual. Sebab sifat dan sikap intelektual masih memiliki unsur pongah. Sedangkan spiritual tidak akan sempurna bila tidak memiliki sikap dan sifat yang ugahari.
Banten, 10 Desember 2024












