Betapa indah dan sangat membahagiakan nikmat sehat itu yang telah dianugerahkan oleh Tuhan, minimal seperti kenyamanan kita menggunakan kendaraan yang bisa bebas menggunakan bahan bakar minyak pertalite maupun pertamax sesuka hati untuk disesuaikan dengan kemampuan dana yang tersedia. Artinya, kebebasan untuk dapat mengkonsumsi semua makanan apapun yang halal, merupakan karunia atau bahkan layak disyukuri sebagai anugerah yang tidak dapat dinikmati oleh semua orang.
Sehingga nikmat sehat itu termasuk kesehatan tubuh untuk bergerak bebas, meski tidak lagi harus selincah atlet melakukan olah raga di lapangan atau arena olah raga. Sebab tidak sedikit mereka yang masih berusia relatif muda pun, sudah terganggu gerak tubuhnya, meski hanya sekedar untuk berjalan secara normal-normal saja. Dan sebagai seorang penulis — yang telah melebihi takaran waktu menggunakan mata untuk membaca dan menulis — harus tetap rendah hati bersyukur setelah puluhan tahun menggunakannya, walau sekarang agak sedikit berkurang daya kecepatannya untuk menangkap bola yang dilempar dengan keras. Atau sekedar menangkis pukulan dalan pelatihan bela diri untuk sekedar ikut menjaga kebugaran tubuh agar tidak loyo mengikuti irama usia yang semakin renta.
Dari perspektif lain, nikmat sehat yang perlu disyukuri itu bukan sekedar ekspresi terima kasih pada limpahan rahmat dan karunia dari Allah, sebab yang tidak kalah penting adalah menyadari dan memahami sifat pemurah dari Tuhan yang pantas dan patut untuk ditauladani oleh manusia sebagai khalifah-Nya yang paling mulia di muka bumi.
Mauk, 8 Desember 2024












