Jadi, hukuman memotong kaki yang telah menyentuh barang yang bukan miliknya tetap harus dilakukan sang Ibu kepada putranya sendiri — sebagai konsekuensi — untuk tetap menjaga keadilan serta tegaknya hukum di negeri Kalingga.
Kisah sejarah masa silam suku Bangsa Nusantara — seperti yang berkilau semasa pemerintahan Ratu Shima di Kerajaan Kalingga ini dapat menghantar masa Kepemimpinannya Shima mencapai puncak lewat ketangguhannya yang tegas, cerdas dan bijaksana serta konsisten untuk menegakkan keadilan bagi seluruh rakyat, tanpa kecuali.
Puncak keemasan Kerajaan Kalingga yang dipimpin oleh Ratu Shima mampu mengambil alih bandar dagang teramai yang dikuasai oleh Kerajaan Tarumanegara di bagian pesisir utara, Jawa Barat. Bahkan, ketika itu juga Kerajaan Kalingga dapat menjalin hubungan — yang setara — dengan Kekaisaran Cina sejak abad ke-5. Kecuali itu, sektor pertanian yang berkembang sangat menggembirakan hasilnya yang melimpah, sehingga kondisi ekonomi rakyat semakin baik, makmur, sejahtera dan adil. Hasil kerajinan tangan yang dikembangkan rakyat ikut menjadi daya dukung ekonomi Kerajaan Kalingga semakin moncer, menggembirakan.
Yang pasti, dari penelusuran sejarah kejayaan suku bangsa nusantara pada masa silam itu — utamanya Kerajaan Kalingga hingga Sriwijaya sampai Majapahit dan Mataram itu dahulu dapat menjadi semacam petunjuk jalan bagi bangsa dan negara Indonesia yang bermula dari Nusantara mampu memasuki era Indonesia emas pada tahun 2045, setelah seabad menapaki alam kemerdekaan ?
Sebab nukilan kisah Kerajaan Kalingga setelah meninggalnya Ratu Shima pada tahun 695, Kerajaan Kalingga pun dibagi secara adil oleh kedua anaknya. Pangeran Parwati yang diperistri Rahyang Mandiminyak dari Kerajaan Galuh menguasai Kalingga Utara. Sedang untuk bagian selatan dipegang oleh Pangeran Narayana. Namun gejala awal keruntuhan Kerajaan Kalingga mulai terjadi sejak terjadi serangan dari Kerajaan Sriwijaya. Hingga kemudian, Kalingga menjadi kerajaan taklukan sepenuhnya dari Kerajaan Sriwijaya.
Siluet masa silam suku bangsa nusantara yang kini telah sepakat menjadi satu kesatuan dalam bentuk Negara Republik Indonesia (tak lagi perlu ada penegasan kesatuan dalam pembingkaian seperti yang tertulis pada hari ini) bisakah mewujudkan semua cita-cita proklamasi bangsa dan negara pada tahun 1945 itu — mengatasi masalah kemiskinan untuk rakyat yang sejahtera dan memberantas kebodohan dengan meningkatkan kecerdasan rakyat yang beretika, bermoral dan berakhlak mulia sebagai manusia yang lebih beradab untuk memimpin dunia dalam semua segi kehidupan. Jika tidak, upaya untuk melongok masa depan melalui masa lalu dan kondisi dan situasi nyata yang sedang berproses hari ini, akan sia-sia bila tidak dapat dijadikan daya usaha serta energi untuk menggamit kejayaan bangsa dan negara Indonesia yang kita inginkan
Bogor, 29 November 2024












