Penetapan tahun (baru) Masehi berdasarkan siklus revolusi bumi mengelilingi matahari yang berdasarkan pada kalender Julian dan Gregorian yang bermula pada abad ke 8 Sebelum Masehi (SM) atas inisiatif Numa Pompilius, Raja kedua Roma yang menambahkan dua bulan pada kalender Romawi, yaitu Januari dan Februari. Lalu Julius Caesar menyempurnakan kalender Romawi itu dengan bantuan ahli astronomi dan matematika. Hingga Paus Gregorius XIII menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru pada 24 Februari tahun 1582. Dan perayaan Tahun Baru Masehi dikaitkan dengan Dewa Janus, dewa bangsa Romawi yang memiliki dua wajah dan kemampuan melihat masa lalu dan menerawang masa depan. Jadi jelas, semua penggalan yang ada memiliki bobot spiritual yang beragam pada masa dan dari mana asal muasal kehadirannya sehingga seperti apa adanya sekarang.
Lain lagi ceritanya sejarah Tahun Baru China yang acap disebut Imlek atas dasar pergerakan bulan mengitari bumi, selama 29,5 hari dalam sebulan. Jadi, tahun baru Imlek dihitung atas dasar kalender Lunar Tionghoa yang berbeda dengan kalendar Masehi. Sehingga waktu Imlek bisa berbeda pada setiap tahun, namun tetap berlangsung pada waktu yang sama dalam kalender Lunar. Sehingga perayaan Imlek jatuh pada akhir bulan Januari hingga pertengahan bulan Februari Tahun Masehi.
Biasanya perayaan Imlek pun menjadi momentum untuk menyampaikan rasa syukur atas segala sesuatu yang telah didapat — dicapai — pada tahun sebelumnya.
Dua bentuk kalender Lunar Tionghoa untuk menentukan perayaan Imlek, yaitu kalender Kongzili. Perbedaan dari kedua kalender China ini.
Kongzili atau yang lebih dikenal sebagai kalender Masehi berbasis pada Matahari (sokar). Prinsipnya didasarkan pada peredaran bumi yang mengelilingi Matahari. Sehingga memiliki 365 hari dalam setahun. Atau 366 hari pada tahun kabisat. Sedangkan setiap bulan memiliki durasi yang tetap, yaitu 30 atau 31 hari hampir sama dengan kalender Masehi.
Kalender Lunar Tionghoa disebut Lunisolar. Artinya, perhitungan yang menggabungkan pergerakan bulan mengelilingi bumi dan posisi matahari. Setiap tahun pun, kalender ini memiliki 12 bulan dengan durasi setiap bulan berkisar antara 29 hingga 30 hari.
Uniknya, pada tahun tertentu, kalender ini bisa memiliki bulan tambahan (bukan kabisat) untuk menyesuaikan dengan pergerakan matahari.
Tahun Baru Kongzili selalu jatuh pada 1 Januari seperti kalender Tahun Masehi. Sehingga tahun baru Lunar atau yang sering disebut Imlek itu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahun. Sehingga berkisar antara akhir Januari hingga pertengahan bulan Februari pada tahun Masehi. Tetapi selalu berlangsung pada waktu yang sama dalam kalender Lunar.
Yang terpenting, kalender Lunar menjadi patokan utama dalam budaya warga Tionghoa, utamanya dalam menentukan perayaan budaya dan tradisional seperti Imlek, Festival Lampion, Festival Qingming dan festival pertengahan musim gugur. Karena itu wajar banyak warga Tionghoa yang menggunakan perhitungan kalender Lunar untuk menentukan hari yang baik hingga Feng Shui maupun acara yang dianggap penting lainnya.
Dalam kalender Lunar ada zodiak Tionghoa dan lima elemen sifat dari logam, air, kayu api dan tanah. Kalender Lunar juga ditandai 12 hewan zodiak, mulai dari tikus, kerbau, harimau, kelinci, babi dan lain-lain untuk melihat peruntungan pada tahun tersebut.
Agaknya, begitulah makna spiritualis dari beragam kalender ciptaan manusia yang mengacu pada peredaran Bulan atau Matahari terhadap Bumi bagi manusia hingga mampu menandai banyak pertanda dan isyarat yang baik bagi hidup dan penghidupan.
Banten, 10 Februari 2025












