Semua drama itu persis seperti rakyat yang diajak sibuk memikirkan buronan yang mereka simpan di kamar belakang, sambil menghitung pundi-pundi yang masih bisa dibagikan sedikit kepada sejumlah pihak yang telah ikut melakukan pengamanan. Atau, setidaknya memberi jalan yang lapang untuk aktor utama dari drama sebabak itu. Sebab dalam episode yang lain masih terlalu banyak yang belum tergarap secara tuntas untuk dijadikan tontonan dan pementasan bagi rakyat agar bisa melupakan rasa lapar, lantaran tidak lagi mampu membeli bahan panganan di pasar, sebab lonjakan harganya memang telah sempurna pula dipelihara.
Sudah begitu keji dan kejamnya hidup yang mendera rakyat ini, ambisi dan birahi penguasa yang masih kasmaran — kayak remaja tingting yang baru berakhir baleq — masih melirik janda tua atau duda renta yang sudah berulang menanggung derita akibat dusta dan tipu daya yang pernah berjaya pada periode sebelumnya.
Ya, tragika sekali memang kisahnya. Meski begitu, toh tidak ada sineas Indonesia yang mampu mengangkat narasinya ke layar lebar sampai hari ini. Kendati dramatika peristiwanya masih terus berlangsung, entah sampai kapan, seperti mengejar bayangan buronan yang ada di belakang rumah.
Banten, 27 Desember 2024












