Upaya menjaga atau melestarikan sejumlah karya budaya suku bangsa Indonesia yang beragam corak dan warnanya ini dapat dimulai dari sastra lisan itu. Termasuk mendokumentasikan aksara daerah serta bahasa daerah yang kini mulai dilupakan masyarakat setempat.
Corak hasil karya budaya dalam bentuk olahan panganan, pun perlu disusun dalam bentuk buku dengan rincian ramuannya yang khas itu. Boleh saja berupa macam jenis atau suka cita menu racikan dari panganan yang disebut pepesan itu, dirinci dari bahan apa saja — ikan atau tahu — serta jenis bahan racikannya dari bahan pangan lainnya.
Seperti dari bahan pangan ubi kayu atau singkong misalnya, toh bisa beragam model olahan dan racikan menu yang dapat dibuat. Mulai dari getuk lindri hingga tiwul dan oyek, jika diolah dengan oleh mereka yang ahli dan piawai dalam soal masak memasak, cita rasanya pasti enak dan mengesankan. Semua hasil karya yang bernilai budaya ini pasti bisa memberi nilai lebih, setidaknya dalam khazanah budaya bangsa sebesar dan sekaya Indonesia yang perlu dibuktikan dalam beragam macam tampilan, bukan cuma sebatas deklamasi atau seni pembacaan puisi hingga pentas drama dan lenong agar tidak berkisar seputar panggung pementasan belaka.
Dalam konteks inilah, gagasan Pemimpin Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu untuk mengangkat Candi Borobudur serta Candi Muara Takus menjadi pusat ziarah spiritual bagi bangsa-bangsa di dunia perlu diwujudkan. Sehingga aset budaya bangsa dan sejenisnya dapat memberi nilai tambah, tak hanya sekedar nostalgia sejarah, tapi juga bisa mendatang nilai ekonomi, tidak hanya sebatas situs dan artefak yang cuma bisa dibanggakan. Tapi juga patut memberi nilai ekonomi untuk percepatan perbaikan kesejahteraan rakyat
Agaknya tidaklah berlebih, bila Kementerian Kebudayaan — yang telah mendapatkan kavling khusus harus bisa meningkatkan nilai tambah karya budaya anak bangsa, agar tak hanya sekedar menjadi pajangan dan nostalgia masa lalu saja.
Pecenongan, 27 Oktober 2024












