Pada sektor pertanian pun begitu. Para petani selaku merasa mengalami kesulitan untuk memperoleh pupuk, kendati pemerintah selalu menjanjikan dapat diperoleh dengan mudah. Sedangkan di lingkungan rumah tangga, ibu-ibu tidak cuma mengeluhkan harga bahan pangan yang terus naik, tapi merasa ditekan oleh harga gas dan rekening listrik serta air yang ikut-ikutan menambah kepanikan lantaran pelayanannya makin tidak menyenangkan, karena sering mati dan terada sangat mengganggu karena menjadi menghambat kelancaran kerja serta program kerja jadi terlambat atau bahkan sama sekali tertunda atau dibatalkan.
Haralan ibu-ibu serta pengusaha kuliner pada umumnya adakah gas untuk memasak sungguh diharap bisa diturunkan harganya atau disubsidi seperti bahan bakar minyak yang dapat dilakukan juga oleh Pertamina. Karena bila menilik keuntungan yang sangat fantastik yang mampu diraup oleh Pertamina, agaknya untuk menurunkan tarif gas — yang kini semakin gencar dibuat saluran langsung ke rumah-rakyat, perlu mendapat perhatian serius dari pihak Pertamina sebagai pengelola utamanya. Sebab dengan begitu himpitan berat dari biaya hidup yang semakin berat, hendaknya dapat dikurangi dengan berbagai cara dan dukungan nyata dari pihak pemerintah melalui badan usaha miliki Negara (BUMN) termasuk pinjaman lunak untuk modal usaha rakyat yang semakin banyak kehilangan pekerjaan.












