Hasil usaha PT. Pertamina yang berkuasa atas gas dan minyak bumi dengan penghasilan yang berlimpah dan terus menangguk untung, sewajarnya bila pasokan gas untuk konsumsi rumah tangga perlu mendapat perhatian ekstra. Sebab masalah gas untuk keperluan rumah tangga sudah menjadi keluhan ibu-ibu akibat terus dihimpit oleh harga kebutuhan bahan pangan pokok yang tidak mungkin bisa ditunda-tunda seperti keperluan terhadap gas untuk mengolah masakan yang diperlukan setiap hari.
Kedaulatan pangan dan kemandirian energi harus nyata dapat dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. (Baca Sigi24, Sabtu 28 Desember 2024). Dan kegaduhan gas elpiji tiga kilogram yang langka dan sulit diperoleh masyarakat karena kebodohan Menteri yang juga konyol melarang gas elpiji dalam takaran tabung melon itu dijual di pedagang pengecer jelas mencekik masyarakat dan kontra produktif dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang telah berupaya menghapus piutang rakyat kecil yang macet, seperti UMKM yang terkait dengan bidang pertanian, perkebunan dan peternakan hingga bidang perikanan dan kelautan, serta berbagai jenis UMKM lainnya. Inilah dasarnya yang patut dilakukan Pertamina dalam mewujudkan kemandirian energi nasional sehingga dapat meringankan beban ekonomi yang menjadi beban rakyat.
Kedunguan sikap dari kementerian yang sungguh tidak bijak melarang penjualan gas elpiji di pedagang eceran ini — hingga meninggalnya warga di Tangerang Selatan akibat lelah melakukan antre gas elpiji — Presiden Prabowo Subianto seperti dipaksa turun tangan untuk mengatasi tugas dan pekerjaan Menteri yang tidak becus itu dengan instruksi agar para pengecer gas elpiji dapat kembali melakukan penjualan. Mestinya dalam instruksi Presiden ini dapat disertai dengan nilai harga yang diturunkan, agar dera dan derita rakyat kecil dapat keringanan dari himpitan ekonomi yang berat. Pemberlakuan instruksi Presiden Prabowo Subianto mulai berlaku terhitung sejak 4 Februari 2025. Dan idealnya, realisasi dari pelaksanaan instruksi Presiden ini harus disertai pengawasan yang ketat di pasar. Sebab ada saja pihak yang ingin membuat image buruk terhadap pemerintahan Kabinet Merah Putih yang harus pula dibersihkan dari pemain yang culas dan sangat mungkin hendak menggunting dalam lipatan.
Sehingga suara-suara sumbang seperti lelenguh dari warga masyarakat yang jengkel dan gemas ingin marah tak lagi perlu mengeluhkan : “Gas Melon Kok dijadikan mainan oleh Bahlil, apa memang sungguh bahlul ?” kata seorang pengantre gas melon yang dijanjikan akan datang sejak pagi tadi hingga menjelang petang tak juga datang, kata pemilik Warung Tegal dengan wajah pasrahnya.
Banten, 3 Februari 2025












