Sementara itu, prioritas ketiga adalah mempercepat pembangunan jaringan pipa yang dinilai menjadi solusi untuk menekan biaya operasional sekaligus meningkatkan kapasitas produksi minyak dan gas.
Menurut Afni, pembangunan infrastruktur tersebut tidak boleh lagi tertunda mengingat efisiensi biaya menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi BSP.
“Jangan menunggu tahun depan. Kita ingin persoalan ini selesai tahun ini agar biaya produksi dapat ditekan dan produksi meningkat,” katanya.
Hadapi Tantangan Industri Migas
Afni mengakui kondisi yang dihadapi BSP saat ini tidak mudah. Meskipun harga minyak dunia menunjukkan tren meningkat, perusahaan tetap dihadapkan pada kenaikan biaya produksi, kebutuhan investasi, serta berbagai persoalan operasional dan sosial yang harus segera diselesaikan.
Karena itu, ia berharap kepemimpinan baru mampu menghadirkan terobosan agar BSP kembali menjadi perusahaan daerah yang sehat, kompetitif, dan memberikan kontribusi optimal terhadap pendapatan daerah.
Minta Seluruh Jajaran Bersatu
Di akhir arahannya, Afni mengajak seluruh jajaran BSP meninggalkan perbedaan yang sempat muncul selama proses pergantian kepemimpinan dan mulai membangun soliditas di bawah direktur yang baru.
Ia menegaskan, keberhasilan BSP tidak hanya bergantung pada seorang direktur, tetapi membutuhkan dukungan seluruh karyawan dan manajemen perusahaan.
“Tidak ada lagi kubu-kubuan atau kotak-kotakan. Hari ini BSP memiliki nahkoda baru. Semua harus bersatu mendukung kepemimpinan yang baru,” tegas Afni.
Dengan kepemimpinan baru tersebut, Pemerintah Kabupaten Siak berharap PT BSP mampu memperkuat kinerja bisnis, meningkatkan produksi migas, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan dan perekonomian daerah.
YB.SIHOTANG












