“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendahulunya, menjaga jejak sejarahnya, dan mewariskan nilai-nilai mulia kepada generasi penerus,” ucapnya.
Sementara itu, Bupati Simalungun dalam sambutannya menyampaikan makna mendalam dari pemugaran makam ini. Jika Pemerintah Kota Pematangsiantar mengabadikan namanya di rumah sakit, maka keluarga dan lembaga adat menghormatinya dengan merawat tempat peristirahatan terakhirnya, sebuah kolaborasi yang indah dan patut dicontoh.
Bupati menegaskan tiga nilai utama yang diwariskan dr. Djasamen Saragih: keberanian menjadi yang pertama, semangat mengabdi kepada kemanusiaan tanpa membedakan suku dan agama, serta tidak pernah melupakan asal-usul meski telah meraih kesuksesan. Nilai-nilai itu sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Simalungun, Habonaron Do Bona.
Bupati berharap makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah keluarga, melainkan berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan pendidikan. Bupati meminta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Dinas Pendidikan memasukkan kisah perjuangan dr. Djasamen Saragih ke dalam muatan lokal sejarah di sekolah-sekolah.
Para Pangulu dan guru di Kecamatan Raya pun diharapkan membawa anak-anak berkunjung ke makam ini, agar mereka tahu bahwa dari Kabupaten Simalungun ini pernah lahir seorang putra yang namanya harum sepanjang masa.
Dengan penuh khidmat, Bupati pun resmi menyatakan: “Makam Keluarga Almarhum dr. Djasamen Saragih di Nagori Aman Raya, secara resmi saya nyatakan telah diresmikan.”
Peresmian ini menjadi simbol kuat, bahwa warisan sejarah, budaya, dan semangat pengabdian para tokoh pendahulu harus terus dijaga, diwariskan, dan dijadikan fondasi membangun Simalungun yang maju, berbudaya, dan berakhlak mulia.
Laporan AG












