Sebelum upacara peletakan batu pertama dimulai, acara dibuka dengan pemberian sekapur sirih yang menjadi tradisi adat Simalungun, suatu tanda penghormatan dan permohonan keberkahan sebelum memulai segala pekerjaan penting.
Selama menyampaikan pidatonya, Bupati Simalungun, Dr H Anton Achmad Saragih mengungkapkan kegembiraannya atas terlaksananya momen tersebut. “Pada hari ini kita telah melaksanakan peletakan batu pertama, semoga pembangunan ini bisa selesai tahun ini,” ujarnya dengan semangat.
Bupati juga menekankan pentingnya mencatat sejarah masjid ini untuk diketahui oleh generasi mendatang. “Sejarah masjid ini yang sangat luar biasa perlu ditulis untuk sejarah anak-anak kita di kemudian hari,” tegasnya.
Kata-kata terima kasih juga dialirkannya kepada ahli waris dan yang telah mau mewakafkan tanah. “Untuk yang mewakafkan ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, jarang ada yang mau mewakafkan tanah seluas ini,” ungkapnya dengan penuh penghormatan.
Bupati juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pembangunan masjid ini dengan niat kebersamaan. “Marilah sama-sama, kita membangun masjid ini bukan dari besar kecilnya yang diberikan tetapi niat kebersamaan, karena ini bukan menjadi milik pribadi tetapi milik kita bersama,”ajak Bupati.
Tanpa melupakan pesan yang penuh kebijaksanaan, Bupati menyampaikan harapannya agar masjid ini nantinya selalu ramai dikunjungi. “Masjid ini akan menjadi lebih besar, nah mengisi masjid ini nanti akan agak repot karena biasanya jemaah sholat Subuh hanya itu-itu saja orangnya, marilah kita ramekan masjid kita ini,” katanya sambil membuat hadirin terhibur dan bersemangat.
Upacara yang penuh makna itu ditutup dengan acara makan bersama yang disebut “padalan surduk-surduk”, hidangan tradisional yang menjadi tanda kebersamaan dan kebahagiaan. Semua hadirin kemudian berfoto bersama untuk mengabadikan momen berharga ini, menandai awal dari sebuah bangunan yang nantinya akan menjadi pusat ibadah dan berkumpulnya umat di Pematang Raya.
(AG)












