“Bagi masyarakat, terutama para ibu-ibu pasar murah ini selalu ditunggu. Karena harga yang ditawarkan lebih miring tentu bisa meringankan belanja dapur di tengah harga pasar yang kerap melonjak,” sebut Afni.
Warga Kampung Bunut, Gusmiati, mengaku terbantu dengan adanya pasar murah ini. Menurutnya, selisih harga Rp2 ribu hingga Rp3 ribu per kilogram sudah sangat berarti bagi ibu rumah tangga sepertinya.
“Pasar murah ini sangat membantu, khususnya ibu rumah tangga seperti saya. Bagi kami, selisih dua ribu hingga tiga ribu rupiah saja itu sangat berharga,” kata dia.
“Misalnya gula, di warung harganya Rp20 ribu, di sini Rp17.500. Kalau beli dua kilo, masih ada sisa Rp5 ribu untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gusmiati berharap pasar murah semacam ini bisa terus berlanjut bahkan rutin diadakan setiap minggu, dengan jenis barang yang lebih bervariasi.
“Kalau bisa jangan hanya beras, gula, dan minyak. Akan lebih baik kalau ada juga mie, sabun, dan kebutuhan pokok lain, supaya makin terasa manfaatnya bagi kami,” pinta seorang ibu rumah tangga itu.
Parlindungan Tambunan












