Ia menambahkan, apel gelar pasukan hari ini, bagian dari kesiapsiagaan petugas dalam memastikan personel dan peralatan siap menghadapi karhutla, terutama di wilayah gambut.
“Kami akan terus melakukan patroli bersama perusahaan dan stakeholder, serta turun langsung ke lapangan untuk memastikan kesiapan sarpras sesuai dan setiap potensi titik api dapat dicegah sejak dini,” kata Kalaksa BPBD Siak.
Noven menjelaskan bahwa sistem deteksi dini berbasis hotspot terus dioptimalkan, setiap titik panas yang terpantau tidak langsung dianggap sebagai kebakaran. Tetapi segera diverifikasi di lapangan bersama Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kampung, dan kecamatan.
“Begitu kita mendapat data hotspot, kami langsung lakukan pengecekan di lapangan bersama MPA, pemerintah kampung, dan kecamatan agar tidak berkembang menjadi kebakaran,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Kabupaten Siak hingga 29 Juni 2026, tercatat 254 titik hotspot dan 45 fire spot. Sebanyak 11 dari 14 kecamatan di Kabupaten Siak dipetakan sebagai wilayah rawan karhutla karena didominasi lahan gambut serta kawasan perkebunan masyarakat maupun perusahaan.
Perwakilan perusahaan dari PT Arara Abadi, Lambok Pardede, mengatakan pihaknya telah melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, serta unsur terkait di wilayah Pusako dan Sungai Apit yang masuk kategori rawan. Selain itu, perusahaan juga memperkuat sosialisasi serta koordinasi di tingkat desa dan kecamatan.
“Kami sudah melakukan patroli bersama BPBD, TNI, Polri, serta sosialisasi kepada masyarakat di wilayah rawan. Ke depan juga akan diperkuat dengan pos mitigasi agar penanganan bisa lebih cepat dilakukan ketika terjadi kebakaran,” ringkasnya.
Parlindungan Tambunan












