“Karena perubahan cuaca yang tidak jelas, perubahan iklim yang tidak pasti, panasnya berapa bulan, hujannya berapa bulan, sulit sekarang ini diprediksi dan dihitung, sehingga menyebabkan produksi pangan di hampir semua negara turun. Dan ketakutan dunia adalah nantinya terjadi krisis pangan,” jelasnya.
Presiden mengatakan di Indonesia, riset-riset mengenai pangan, hortikultura masih jauh tertinggal dari negara-negara lain. Contohnya untuk produksi kopi nasional saja, kira-kira hanya 2-2,3 ton per hektar, sementara di negara lain sudah mencapai 8-9 ton per hektar.
“Artinya bibit, benih unggul yang kita miliki kalah dari mereka. Padi juga sama, per hektar kita baru 5,2 ton, negara lain bisa sampai 7 ton, artinya riset di sini kita masih kalah dengan negara lain,” tuturnya.
Presiden meminta seluruh pihak terkait untuk menjalin kerja sama dengan siapapun atau negara manapun untuk bisa mendapatkan benih dan bibit unggul, sehingga produktivitas produksi padi dan bahan pangan bisa meningkat.
Usai peresmian, Presiden Jokowi kembali ke Jakarta melalui Bandar Udara Raja Sisingamangaraja XII,Kabupaten Tapanuli Utara.
Tampak hadir di lokasi acara, antara lain Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak M.Sc, Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto, Danrem 023/KS Kolonel Inf Jansen P Nainggolan, serta pejabat TNI-Polri dan pemerintahan di Sumut lainnya.












