Artinya dalam perspektif ekonomi ortodok, bangsa Nusantara sudah pernah mencapai titik keunggulan dalam bidang ekonomi yang tak pernah perduli pada teori dan strategi — apalagi kerakusan dan ambisiusitas — kaum kapitalis yang menguasai Indonesia sekarang ini dengan melahirkan turunannya yang kita sebut neo-lib dan kaum oligarki.
Jadi kekalahan bangsa yang pernah berjaya pada masa lalu itu — agar tidak sekedar menjadi dongeng — perlu mengevaluasi diri untuk segera kembali kepada jatidiri bangsa Nusantara yang telah menjadi Indonesia ini — yang otentik. Agar kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan kepribadian yang kuat — tidak terombang-ambing di samudra peradaban dunia yang gamang untuk mencari bentuk dan formatnya seperti yang diisyaratkan oleh sunnatullah kepada manusia sebagai khalifatullah — wakil Tuhan — di bumi. Panduan utamanya adalah rahmatan lil alamin.
Jadi kemiskinan dan kebodohan yang identik pelik asal usul bermukanya itu, cukup dihadapi dengan tawakal dan tabah tanpa perlu pusing memikirkan bagian mutlak dari otoritas Tuhan yang menentukannya. Sehingga manusia cukup berusaha untuk mengatasinya, tanpa perlu mempersiapkan batas-batas dari kekuasaan Tuhan.
Banten, 4 Februari 2025












