Scroll untuk baca artikel
Deskripsi Gambar Deskripsi Gambar
Berita

Jacob Ereste : Heroisme Dari Sosok Laksamana Keumalahayati Hingga Marsinah Yang Perlu & Patut Direnungkan Pada Setiap Hari Ibu, 22 Desember

×

Jacob Ereste : Heroisme Dari Sosok Laksamana Keumalahayati Hingga Marsinah Yang Perlu & Patut Direnungkan Pada Setiap Hari Ibu, 22 Desember

Sebarkan artikel ini

Kronologis peristiwa kematian Marsinah, bermula dari aksi unjuk rasa yang dilakukannya bersama aktivis dan kawan-kawan buruh pada 3-4 Mei 1993 di pabrik tempatnya bekerja, PT. CPS yang menaikkan upah buruh sesuai dengan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur, No. 50 Tahun 1992. Seusai unjuk rasa, Selasa sore, 4 Mei 1993, Kodim Sidoarjo melayangkan surat panggilan terhadap 13 kawan-kawan Marsinah — yang dianggap dedengkot pada aksi unjuk rasa itu — untuk hadir pada tanggal 5 Mei 1993. Panggilan Kodim Sidoarjo itu mereka penuhi, namun hasilnya ke 13 rekan Marsinah itu menyatakan mundur sebagai pekerja dari PT. CPS. Pihak Kodim Sidoarjo sendiri mengaku tidak melakukan pemaksaan terhadap pengunduran diri para aktivis dan tokoh buruh itu. Karena Marsinah sendiri ingin memastikan informasi dari kawan-kawannya itu, dia mencari tahu dengan mendatangi Kodim setempat. Namun sesampainya di Kodim, dia memperoleh penjelasan bahwa semua teman-teman buruh itu sudah pulang.

Baca Juga  Dansat Brimob Polda Riau Hadiri Pembukaan Kejuaraan Forki Riau Open Championship 2024

Tak puas dengan keterangan dari pihak Kodim Sidoarjo ini, Marsinah berusaha mencari semua teman buruhnya itu hingga menjumpai 4 orang diantaranya bahwa mereka telah diberhentikan, karena dianggap menjadi motor penggerak aksi unjuk rasa pada 3-4 Mei 1993 di tempat mereka bekerja, PT. CPS, Sidoarjo. Karena itu, Marsinah meminta semua berkas, termasuk surat panggilan dari Kodim Sidoarjo itu untuk melengkapi bukti protes yang akan dia lakukan esok hari. Seusai bertemu rekannya, dia lantas ke luar rumah kontrakannya untuk mencari makan. Setelah itu, keberadaan Marsinah menjadi gelap hingga jenazahnya baru bisa ditemukan dua hari kemudian — 8 Mei 1993 — di sebuah gubuk di pinggir hutan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur.

Baca Juga  Ciptakan Lingkungan Bersih, Pos Rawara Satgas Yonif 642/Kps Laksanakan Karya Bakti Bersama masyarakat

Sejak berita kematian Marsinah tersiar luas, respon pertama yang muncul dari aktivis buruh dan serikat buruh di Jakarta, kesaksian tertulis dalam bentuk puisi perlawanan “Surat Cinta Kepada Marsinah” pada 14 Mei 1993 (baca Jacob Ereste) saat SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia yang terbilang fenomenal semasa keganasan kekuasaan Orde Baru) tertulis saat bermarkas di Jalan Kayu Ramin, Hutan Kayu, Jakarta Timur.

Kisah heroik Laksamana Keumalahayati hingga Marsinah, tinggal kenangan yang patut menjadi bahan renungan saat memperingati Hari Ibu pada setiap 22 Desember setiap tahun di Indonesia.

Banten, 18 Desember 2024

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *