Sementara ancaman kepunahan agama asli para leluhur kita itu, terhimpit dalam arus modernisasi dan globalisasi untuk tetap relevan dijaga keberadaannya dalam perubahan yang sedemikian cepat dengan migrasi penduduk dan masuknya budaya asing dengan gelombang global yang cenderung menggusur nilai-nilai tradisi yang dianggap usang. Begitulah stigma kuno yang menjadi alasan untuk menepikan keyakinan dari kepercayaan yang telah dianggap primitif itu patut mendapat perhatian dari semua pihak yang merasa perlu dan berkepentingan untuk menjaga dan melestarikan warisan leluhur dari masa lalu itu.
Kesadaran terhadap pentingnya keberagaman — seperti yang tergambar dari banyaknya agama lokal yang dimiliki oleh suku bangsa nusantara ketika itu– merupakan bagian dari budaya dan dimensi spiritual yang perlu diserap saripatinya guna mempertangguh pertahanan dan ketahanan budaya bangsa menghadapi benturan peradaban yang hanya mungkin dapat dijinakkan melalui nilai-nilai keagamaan yang kuat.
Budhy Munawar Rachman, Nia Syarifudin, Engkus Ruswana dan Elza Peldi Taher bersama Denny JA akan menghantar dan menjadi nara sumber pemapar soal kecemasan dan cara mengatasi ancaman kepunahan agama asli leluhur kita itu, agar diselamatkan tidak sampai sirna dari muka bumi. Setidaknya, dari agama asli warisan para leluhur yang adiluhung itu, dapat dijadikan sandingan untuk mendekatkan diri kepada alam, dengan sesama manusia hingga dapat selalu bercengkrama bersama Tuhan sebagai pencipta dan pemberi anugrah yang tiada tara bagi manusia dan alam.
Banten, 1 Desember 2024












