Menurut dia, melalui tema tersebut, kebudayaan daerah bukan sekadar bagian dari kekayaan bangsa, tetapi jantung identitas nasional.
“Di sinilah pentingnya menjaga kesinambungan nilai, bahasa, tradisi, dan ekspresi lokal agar tetap hidup dan berkembang di tengah derasnya perubahan sosial dan kemajuan teknologi,” jelasnya.
Karena itu, forum tersebut menjadi ruang penting untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa budaya adalah kekuatan. Bukan hanya sumber kebanggaan, melainkan landasan dalam membangun karakter, mempererat persatuan, serta memandu arah pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Pemanfaatan media massa dan media sosial menjadi bagian krusial dalam arus pelestarian dan penguatan budaya lokal.
“Media bukan sekadar penyampai pesan, tetapi juga cermin dan pengarah nilai-nilai. Maka, membangun masyarakat yang melek budaya dan cakap bermedia adalah langkah strategis untuk memastikan nilai-nilai luhur tetap mengakar sekaligus menjangkau dunia global,” tuturnya.
Dia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Lampung menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama dalam visi pembangunan daerah.
Melalui berbagai kebijakan dan program, pemprov terus mendorong pelestarian cagar budaya, penguatan bahasa dan seni daerah, pengembangan museum, festival, serta ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Semua ini diarahkan untuk memperkokoh identitas lokal, membina karakter generasi muda, dan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat secara berkeadilan,” sebutnya.
Pendi












