Rombongan mengamati dengan saksama bagaimana tata ruang desa yang diatur secara adat dan sakral tetap terjaga kelestariannya, namun di sisi lain mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke tingkat rumah tangga.
Di Penglipuran, setiap warga terlibat aktif, mendapatkan manfaat adil dari kunjungan wisatawan, dan tetap memegang teguh jati diri budaya tanpa tergerus arus modernisasi. Ini menjadi pelajaran berharga bagaimana warisan leluhur dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi yang berdaulat.
Menanggapi seluruh rangkaian kegiatan dan pengetahuan yang didapatkan, Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, menekankan satu hal mendasar: pembangunan pariwisata haruslah memiliki “ruh”.
Bupati menyampaikan bahwa kolaborasi antar-daerah, antar-instansi, dan antar-sektor harus dibangun sangat kuat, di mana kekayaan budaya dan potensi ekonomi berjalan beriringan dan saling menguatkan.
Lebih jauh, Bupati Simalungun menggarisbawahi bahwa kunci keberhasilan tidak hanya ada pada infrastruktur, melainkan pada sumber daya manusia. Antusiasme masyarakat, budaya senyum yang tulus, serta pelayanan yang mampu memberikan kesan mendalam dan bermakna bagi pengunjung adalah energi utama yang wajib dibangun dan dijaga terus-menerus.
“Pariwisata bukan sekadar tentang membangun gedung megah atau jalan yang mulus, tapi jauh lebih penting adalah membangun karakter dan antusiasme masyarakatnya. Ini adalah tugas kita bersama untuk memastikan setiap langkah pembangunan di Simalungun senantiasa memegang teguh prinsip BerAKHLAK,” tegas Bupati dengan penuh keyakinan.
Menurut Bupati, melalui sinergi yang erat antar sektor pendidikan, pertanian, perdagangan, hingga industri kreatif, tujuan akhirnya adalah menciptakan sistem kerja sama yang menjamin kesejahteraan masyarakat. “Kita ingin memastikan dapur masyarakat kita terus mengepul, hasil bumi kita bernilai tinggi, dan karya anak bangsa kita dibanggakan,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut dari kunjungan ini, Bupati Simalungun berkomitmen untuk segera mengadopsi dan menerapkan model “Orkestrasi Lintas Sektor” yang sukses diterapkan di Bangli, serta kemandirian dan partisipasi warga seperti yang ada di Desa Penglipuran, ke dalam tata kelola pembangunan di nagori-nagori sekitar kawasan Danau Toba.
Dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Bank Indonesia, dan BRIN, Pemerintah Kabupaten Simalungun sangat optimis bahwa Danau Toba akan segera bertransformasi menjadi destinasi wisata kelas dunia.
Kawasan ini tidak hanya akan dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekuatan budayanya, kualitas pelayanannya, dan kemampuannya memberikan manfaat ekonomi yang adil dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Laporan AG












