Sebelumnya, Petani Cabai Lokal Siboras, Rando Jawak, menjelaskan bahwa varietas cabai lokal tersebut memiliki keunggulan dibandingkan varietas lainnya. Dengan perawatan yang baik serta pemupukan yang optimal, tinggi tanaman dapat mencapai sekitar dua meter.
Menurutnya, tanaman mulai memasuki masa panen pada umur sekitar 145 Hari Setelah Tanam (HST) dan mampu berproduksi secara produktif hingga satu tahun dengan frekuensi panen setiap minggu.
“Dalam satu hektare terdapat sekitar 14.000 batang tanaman cabai. Produktivitasnya dapat mencapai rata-rata 3 ton per hektare setiap minggu selama masa panen apabila pemeliharaan dilakukan secara optimal,” jelas Rando.
Meski demikian, Rando berharap pemerintah dapat membantu mengatasi keterbatasan ketersediaan pupuk non-subsidi yang sangat dibutuhkan petani hortikultura, khususnya untuk budidaya cabai dan jeruk.
“Kami berharap ketersediaan pupuk non-subsidi dapat lebih mudah diperoleh karena tanaman cabai dan jeruk sangat bergantung pada pupuk tersebut untuk menjaga kualitas dan produktivitas hasil panen,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Rando juga mempraktikkan secara langsung teknik pemanenan cabai yang baik dan benar kepada Bupati beserta rombongan. Menurutnya, cara panen yang tepat sangat menentukan kualitas buah, menjaga produktivitas tanaman, serta memperpanjang masa panen.
Laporan AG












